Enam Tahun Independensi Kolibri Rekords

Updated: 2 days ago

Artikel ini merupakan artikel komplementer dari edisi terakhir podcast kami, NWFM: Ratta Bill & Daffa Andika.

Ditulis oleh: Argia Adhidhanendra

Editor: Danang Joewono & Aliyya Asra

Cover Foto oleh: Peter Rumondor

Kira-kira di tahun 2014, saat saya masih berada di bangku SMA, saya menemukan satu lagu di Soundcloud yang selalu saya putar dalam beberapa bulan kedepan, “Perennial” oleh Bedchamber. Saat saya berbicara dengan salah satu teman dekat saya saat SMA yang sekarang kita kenal sebagai BAP. atau BAPAK (Kareem Soenharjo) ternyata teman saya pernah sepanggung bersama Bedchamber di acara Kolibri Rekords. Baru saat itu saya paham bahwa suatu band yang saya dengarkan di internet bisa begitu dekat dengan saya. Tak lama setelah itu, saya mencoba untuk membuat acara saya sendiri dengan band-band yang saya dengarkan pada saat itu, salah satunya Bedchamber.

Bedchamber (Foto oleh Peter Rumondor)


Kolibri Rekords merupakan salah satu sosok yang pertama kali saya pribadi kenal ketika saya memulai noisewhore dan mencoba untuk membuat acara sendiri, saya ingat betul berkenalan dengan Daffa Andika dan bertanya mengenai band mana saja yang menurut beliau cocok untuk acara pertama saya saat itu. Hingga hari ini pun saya masih bertanya kepada beliau mengenai keputusan-keputusan yang hendak saya ambil.


Daffa sendiri merupakan salah satu muka yang selalu diajak dalam diskusi-diskusi perihal industri musik yang akhir-akhir ini meningkat dalam kuantitas, tentu karena kondisi pandemi yang terjadi hari ini. Mungkin lelah akan hal ini, saat saya ajak beliau untuk menjadi narasumber di NWFM, pesannya hanya satu: “Jangan terlalu teknis ya”


Mungkin saya kurang berhasil dalam melaksanakan permintaan Daffa yang satu ini karena pada episode NWFM kali ini, kami memberikan oral history dari Kolibri Rekords dan mengapa mereka masih bisa tetap independen dalam enam tahun perjalanan mereka.


Kolibri Rekords sendiri merupakan label yang berdiri di tahun 2014, dimulai dari perkumpulan Daffa, Ratta, Smita dan beberapa teman lain yang berasal dari satu kampus yang sama. Uniknya, mereka kenal satu sama lain bukan dari kehidupan kampus, namun dari kehidupan internet, Ratta sendiri menyatakan bahwa selain Daffa yang sudah beliau kenal sejak bangku TK, semua personil Kolibri Rekords saat pertama didirikan beliau kenal lewat internet, atau mungkin bahasa luwes-nya, mutualan. Perkumpulan kawan-kawan ini awalnya tidak memiliki intensi untuk membuat suatu label rekaman, namun beberapa dari mereka memiliki band, dan tentu saja mereka semua awalnya disatukan oleh selera yang sama.


Menurut Ratta, sebagai satu-satunya individu yang tidak terlibat dalam band dan tidak memiliki keahlian dalam instrumen apapun, Daffa akhirnya memutuskan untuk membuat Kolibri Rekords, dengan tujuan menyatukan berbagai band yang ada dalam perkumpulan kawan-kawan ini.


(Foto oleh Peter Rumondor)


Motif Daffa sendiri sebenarnya lebih dari sekadar untuk mengikuti teman-temannya yang terlibat dalam berbagai band, namun sebagai penulis pada saat itu, beliau menerima banyak press release dari berbagai band setiap harinya, namun jarang sekali beliau menemukan sesuatu yang menarik dari musisi-musisi lokal ini. Beliau sendiri sedang mendengarkan musisi-musisi di bawah label rekaman Captured Tracks dan mendengarkan grup-grup seperti Beach Fossils dan Wild Nothing.


Kolibri Rekords akhirnya berdiri di tahun 2014 dengan roster pertama Bedchamber. Satu fakta yang mungkin tidak banyak diketahui adalah bagaimana salah satu co-founder noisewhore dan produser/musisi ternama hari ini, Kareem Soenharjo merupakan salah satu calon roster Kolibri Rekords awalnya, dengan nama Burma. Namun Daffa mengakui, beliau dan kawan-kawan lainnya ragu akan materi Burma dan memutuskan untuk tidak mengambil Kareem dalam roster Kolibri Rekords.


Enam tahun kemudian, Kolibri Rekords menjadi salah satu label independen terbesar, membawahi band-band favorit kita semua seperti Grrrl Gang dan Bedchamber. Uniknya, Kolibri Rekords sendiri masih beroperasi layaknya kolektif lain, dengan masalah-masalah seperti kolektif lain, dan tentu saja, tetap beroperasi secara independen sejauh ini.

Saat saya menanyakan hal ini, jawaban awal Ratta dan Daffa sangat sederhana: Mereka tidak mau memperbanyak kepala dan keinginan mereka untuk melakukan apapun dalam term mereka sendiri. Ratta menjelaskan lebih jauh bahwa adanya pihak ketiga membutuhkan kompromi-kompromi yang kadang tidak ideal untuk beliau secara pribadi dalam hal visual sebagai art director (Poster, materi promosi, dan lain-lain) dan dalam konteks Kolibri Rekords secara kolektif. Ruang kreatif yang dapat diakses dengan tidak adanya pihak ketiga menjadi alasan besar untuk Ratta, walaupun room for error dalam menjalankan prosesnya bisa jadi sangat kecil, karena tentu saja kerugiannya akan terasa secara pribadi.


(Foto oleh Aliyya Asra)


Di sisi lain, room for error ini bisa diperbesar dengan adanya pihak ketiga, kerugian finansial mungkin tidak begitu terasa dengan adanya suntikan dana dari pihak ketiga. Namun lagi-lagi, beberapa kompromi harus dijalankan dari pihak Kolibri Rekords. Sehingga, menurut Ratta, apa yang Kolibri Rekords coba lakukan selama 6 tahun terakhir adalah mencari cara agar output apapun yang dikeluarkan, baik dalam bentuk acara atau rilisan, bisa dikeluarkan dengan sustainable dan independen. Nantinya, saat ada pihak ketiga yang tertarik untuk bergabung dan mendukung, Kolibri Rekords dapat menerima tawaran tersebut sebagai bonus dan sudah familiar betul perihal leverage yang bisa dilakukan dengan partner tersebut.


Hal ini juga dilakukan untuk menghindari dependensi dengan pihak ketiga yang terlihat dalam entitas-entitas lainnya dalam industri musik. Tentunya, kekhawatiran utamanya adalah apa yang terjadi saat pihak ketiga tersebut angkat kaki?


Hasilnya, kita bisa melihat program-program, bahkan entitas-entitas, bertumbangan selama beberapa tahun terakhir.


Daffa sendiri menambahkan bahwa dalam tiap output yang dikeluarkan oleh Kolibri Rekords, tidak ada motif moneter yang muluk-muluk, beliau sendiri menyatakan bahwa tidak ada ambisi tertentu, seperti naik haji atau membeli mobil, dalam mengeluarkan rilisan atau merencanakan event. Implikasinya adalah Kolibri Rekords disini membatasi scope dalam output mereka menjadi begitu kecil, sehingga stake-nya pun tidak besar-besar amat dan bisa dikendalikan oleh mereka sendiri. Kerugian terbesar yang perlu ditanggung oleh Kolibri Rekords selama 6 tahun berjalan adalah sebesar 6 juta untuk satu acara. Jujur saja, saya iri mendengar angka tersebut, kerugian terbesar noisewhore sendiri 5 kali lipat dari kerugian terbesar Kolibri Rekords.


Kedepannya, Kolibri Rekords tidak akan merubah modus operandinya, sebagai salah satu entitas yang senantiasa menawarkan konten untuk audiens-nya, Kolibri Rekords akan terus mengeluarkan output-nya secara sustainable dan tentunya, dapat dipertanggungjawabkan dalam segala aspek.

Join Our Cult
  • White SoundCloud Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White Instagram Icon
  • White YouTube Icon

© 2020 by noisewhore 

Curating Whatever's Left