Bandempo is Not Dead: 20 Tahun Bandempo

Artikel ini merupakan artikel komplementer dari edisi terakhir podcast kami, NWFM: Anggun Priambodo (Bandempo)

Ditulis Oleh: Argia Adhidhanendra & Danang Joewono

Editor: Aliyya Asra



Empat tahun lalu, saya melihat piringan hitam dengan gambar Tessy, komedian legendaris yang saya sering tonton di masa kecil saya, dalam warna hijau dan ungu. Sejak saat itu, saya mengenal Bandempo, band yang ternyata hanya merilis satu album hingga hari ini. Piringan hitam yang saya lihat adalah hasil rilisan ulang oleh Elevation, 16 tahun setelah album Bandempo keluar.

Re-Release Vinyl Artwork Bandempo with Elevation Records


Empat tahun setelah saya melihat piringan hitam tersebut dan menjadi penggemar berat Bandempo, noisewhore FM merayakan 20 tahun Bandempo, bertepatan dengan rilisnya album Bandempo di streaming platform, bersama Anggun Priambodo.


Anggun merupakan vokalis Bandempo, saya mengenal Anggun lewat kiprahnya di dunia film, terlibat dengan beberapa film seperti Rocket Rain, Marlina Si Pembunuhan dalam Empat Babak dan What They Don't Talk About When They Talk About Love. Namun bagi pendengar Bandempo, Anggun dikenal sebagai vokalis dengan vokal yang melengking, bahkan bisa dibilang sembarang dalam pemabawaan vokalnya. Suara Anggun merupakan elemen penting dalam mendengarkan Bandempo dan lirik-liriknya yang terlihat tidak koheren namun memiliki charm tersendiri bagi pendengarnya.


IKJ 1996

Untuk memahami Bandempo dan statusnya hari ini, kita harus kembali ke Kampus IKJ di tahun 1996. Anggun yang merupakan mahasiswa baru dalam fakultas Seni Rupa, terkagum-kagum dengan penampilan salah satu band yang tampil dalam acara penyambutan mahasiswa baru.


Band yang ditonton Anggun bersama mahasiswa baru lainnya adalah Naif.


Pasca penampilan Naif tersebut, Anggun bertemu dengan beberapa kawan yang nantinya menjadi Bandempo, Jimmy, Iwen, Bondan dan Ade. Mereka dikumpulkan dengan referensi musik yang beragam, namun bagi Anggun, referensi utamanya adalah “musik yang upbeat”. Selain referensi musik, ada satu kesamaan dalam lima mahasiswa baru ini, mereka sama-sama terkesima dengan penampilan band senior mereka, Naif.

Photo Courtesy of Anggun Priambodo


Saat ditawari untuk menjadi vokalis band yang belum ada namanya ini, Anggun mengiyakan dengan satu kondisi: Band ini tidak akan membawakan lagu cover dan hanya akan membawakan lagu orisinil mereka. Suatu hal yang ironis jika kita lihat sekarang karena nyatanya Bandempo meng-cover lagu Bing Slamet dengan judul “Marah-Marah” di album perdana mereka, dengan aransemen yang berbeda tentunya.


Nama Bandempo sendiri merupakan potret budaya di tahun 1996, Anggun menamakan band-nya berdasarkan salah satu tokoh srimulat saat itu, Wadino Bandempo. Srimulat di tahun 1996 merupakan tontonan utama bagi Anggun dan teman-temannya, setiap hari Jumat pagi, dimana mereka pasti akan mengulang tontonan mereka kemarin malam. Nantinya, kegemaran mereka akan Srimulat tertuang dalam lagu “Nonton Srimulat” di album perdana Bandempo.


Setelah beberapa kali latihan dan tampil di acara IKJ, Anggun dan kawan-kawan memutuskan untuk membuat album perdana Bandempo.


Proses Pembuatan Album Bandempo

Kata DIY, singkatan dari Do It Yourself kadang digunakan dengan cukup bebas ketika kita membahas suatu entitas yang terlihat urakan. Namun saya tidak bisa menemukan kata lain untuk pembuatan album yang masih didengarkan dan dibicarakan setelah 20 tahun ini. Proses rekaman album Bandempo hanya memakan 1 shift studio, ditambah dengan setengah shift untuk memasukkan materi-materi tambahan seperti gendang. Satu setengah shift, untuk album yang dinobatkan sebagai album terbaik dari 2000-2010 oleh Jakarta Beat dan masuk dalam daftar 50 album terbaik Indonesia (1955-2015) yang bukunya baru dirilis beberapa waktu lalu.


Berbicara mengenai proses penulisan lagu dan rekaman album Bandempo, Anggun menerangkan bahwa prosesnya cukup sporadis, penulisan lagu cukup tersebar di antara anggota Bandempo. Anggun sendiri menulis “Bukan Propaganda”, “Nonton Srimulat” dan “Kereta Lewat” sedangkan Bondan menulis “PDKT 6 Bulan”. Bondan, Ade, Iwen dan Jimmy membuat melodi-melodi tertentu dan Anggun akan memanfaatkan ruang yang ada untuk vokalnya.


Lagu “Marah-Marah” memiliki cerita tersendiri, lagu yang awalnya dibawakan oleh Bing Slamet ini ditemukan secara tidak sengaja oleh salah satu personil Bandempo. Saat sedang berbelanja kaset di Pasar Senen, salah satu personil Bandempo menemukan kaset “kompilasi” rock yang berisi band-band barat yang sedang didengarkan saat itu. Tanpa banyak pikir, kaset itu dibeli tanpa dicoba.


Keesokan harinya di kampus, kaset tersebut dicoba di hadapan personil Bandempo lainnya, lengkap dengan teman-teman yang kebetulan berada disana waktu itu. Ternyata, isi kaset tersebut adalah lagu-lagu Bing Slamet. Peristiwa ini menjadi candaan tersendiri kala itu.


Diantara kompilasi Bing Slamet ini, terdapat lagu “Marah-Marah” yang didengarkan oleh Bandempo. Terkagum-kagum dengan uniknya lagu ini, mereka mencoba untuk membawakan ulang lagu “Marah-Marah” di setiap panggung mereka hingga akhirnya masuk ke dalam album perdana mereka.

Source: Irockumentary Club


Setelah rekaman, personil Bandempo memproduksi kaset di Bandung sebanyak 150 buah, 50 diantaranya tidak layak edar menurut Anggun. Sehingga hanya 100 kaset Bandempo yang tersebar, lengkap dengan packaging-nya yang menyerupai mainan. Kaset-kaset ini diberikan ke kerabat dan teman terdekat, sisanya diperjualbelikan.


Dari rekaman hingga produksi kaset, album ini memakan ongkos 1,8 juta rupiah. Rekaman album Bandempo dilakukan di Studio K Pondok Gede dan saat itu operator studio tersebut adalah Yudha.


Nama Yudha akan penting untuk menjelaskan cerita Bandempo di akhir artikel ini.


Pasca Perilisan Album Bandempo

Setelah rilis album, Bandempo bermain di beberapa venue dan kemudian hilang.


Jika sejauh ini Bandempo terlihat seperti suatu eksperimen main-main yang mencapai cult status setelah 20 tahun, maka pernyataan ini akan sulit disanggah.


Anggun sendiri berkata bahwa masing-masing personil Bandempo tidak memiliki niat untuk bercokol di industri musik ketika mendirikan Bandempo. Anggun sendiri nantinya lebih dikenal dengan karya-karyanya dalam industri film. Hal ini menjelaskan hilangnya Bandempo, Anggun menyebut proyek Bandempo sebagai eksplorasi


Satu hal yang tidak diketahui banyak orang adalah Bandempo sebenarnya memiliki rencana untuk merilis album kedua tidak lama setelah rilisnya album Bandempo, sekitar tahun 1999-2000 menurut Anggun. Sudah ada beberapa lagu yang dibuat, namun karena personil Bandempo sudah tidak berada di satu kampus (IKJ) maka proses rekaman gagal, Bandempo hilang di mata publik.


Perilisan Ulang Album Bandempo

Bagi generasi selanjutnya yang lahir di akhir 90-an atau awal 2000-an, Bandempo terdengar kembali ketika Elevation Records dalam format piringan hitam. Perilisan plat inilah yang membawa saya untuk mengenal Bandempo empat tahun lalu.


Sebelumnya, Bandempo sempat merilis CD dan kaset dalam kuantitas terbatas juga. Hari ini, di situs jual beli, rilisan Bandempo yang tersedia hanya ada dalam bentuk piringan hitam dan kaset bekas (Tentu tanpa packaging aslinya).


Perihal perilisan piringan hitam, awalnya Anggun ingin merilis ini secara independen. Sebagai orang yang suka mendokumentasikan sesuatu, Bandempo sudah memiliki kaset dan CD, akan menjadi lengkap ketika Bandempo memiliki piringan hitam.


Dalam merencanakan hal ini di 2010, Anggun berkonsultasi dengan Taufiq dari Elevation perihal cara-cara merilis piringan hitam, sekaligus memperlihatkan master album Bandempo. Karena satu dan lain hal, rencana ini tidak dilanjutkan kembali.


Lima tahun pasca Anggun memperlihatkan master Bandempo kepada Taufiq (Ternyata master Bandempo saat itu masih dipegang Taufiq) dan setelah membicarakan hal ini dengan David Tarigan, Taufiq menelpon Anggun untuk memberitahu bahwa Elevation ingin merilis kembali album Bandempo dalam format piringan hitam.


Lahirlah piringan hitam album Bandempo oleh Elevation Records di tahun 2016.


20 Tahun Bandempo

Kalau mendasarkan tulisan pada sampul kasetnya, Juni 2020 menandakan 20 tahun dari album semata wayang dari Bandempo. Sekitar pada waktu ini juga Anggun bertemu dengan Levi dari The Fly, kerabat lama dari anggota-anggota Bandempo dan juga penggemar dari karya album yang berumur 20 tahun itu. Setelah sekian lama tidak bertemu, pertanyaan yang ditanyakan oleh Levi kepada Anggun tetap sama, “Apakah ada niatan untuk memasukkan album Bandempo ke layanan digital?” Tentunya bukan pertama kali Anggun menerima pertanyaan ini, namun baru kali ini setelah beberapa tahun ia menanggapinya dengan serius. Katanya seolah seperti baru disadarkan kembali, “Oh iya, kita tuh punya Bandempo loh ya.

Photo Courtesy of Anggun Priambodo


Proses remaster pun dimulai setelah pembicaraan tersebut. Seperti saat aktif-aktifnya Bandempo di tahun 2000an awal, proses ini berjalan dengan lancar dan relatif tidak ada konflik. Proses yang berlanjut justru bisa dibilang magis bila diceritakan. Rekaman asli dari album Bandempo ternyata masih tersimpan sampai saat ini dalam bentuk DAT (Digital Audio Tape), format yang memang menjadi pilihan utama untuk menyimpan rekaman live atau studio pada zamannya. Sayangnya, di tahun 2020, sudah hampir tidak ada orang yang memiliki pemutar yang layak untuk rekaman DAT. Levi sempat mencoba untuk menghubungi kenalan-kenalan yang mungkin memiliki pemutarnya di Jakarta dan hampir tidak menemukannya.


Pencarian ini berakhir saat Levi diarahkan untuk menghubungi seseorang yang masih mempunyai pemutar yang layak untuk rekaman DAT ini di daerah Pondok Gede, lebih tepatnya di Studio K, yang masih dijalani oleh Yudha.


Siapa yang sangka, setelah sekian lama, proses remaster dari album Bandempo ini melewati proses full circle dan kembali ke studio yang sama dimana mereka merekam albumnya. Orang yang mengelolanya pun ternyata adalah Yudha, yang merupakan operator pada 1 shift rekaman yang sama 20 tahun lalu. Rekaman DAT yang ternyata sudah berjamur membuat Levi harus mengakalinya dengan menggabungkan rekaman dari file digital-nya juga. Proses beberapa bulan ini akhirnya dapat diakses oleh khalayak pada 14 Agustus 2020 di layanan musik digital, dengan 7 lagu original mereka dan diberi judul ‘Bandempo 20th Anniversary’.

Bandempo is Not Dead

Setelah bangkit dari mati suri, Bandempo kembali dengan video klip baru. Pertanyaan selanjutnya, apakah Bandempo akan benar-benar kembali kali ini? Mereka sudah menciptakan beberapa ombak selama satu dekade terakhir, mulai dari panggung mereka di School of Rock hingga perilisan ulang secara digital bulan ini.

Sebagai band yang memiliki status cult tersendiri, agak wajar (Dan juga egois, tentunya) untuk sedikit berharap bahwa mereka akan produktif kembali, baik kembali ke panggung untuk membawakan materi-materi yang saya sudah hafal di luar kepala atau bahkan mencoba untuk mereplikasi sihir album semata wayang Bandempo 20 tahun lalu.


Dalam wawancara ini, Anggun memberikan jawaban yang memuaskan.


Anggun menjelaskan bahwa masa pandemi memberikan kesempatan baginya untuk “menyentuh” beberapa hal yang sudah tidak lama disentuh, baik secara sengaja atau tidak sengaja. Salah satunya adalah Bandempo. Sejak perencanaan perilisan digital, personil Bandempo bisa kembali berkumpul dan berdiskusi.


Hasilnya, lagu-lagu yang diciptakan 20 tahun yang lalu setelah album perdana Bandempo, lagu-lagu yang seharusnya direkam dan menjadi bagian album kedua Bandempo, lagu-lagu yang tidak pernah didokumentasikan sebelumnya menurut Anggun, kembali ke Bandempo.


Anggun mengatakan bahwa bulan September 2020 mendatang, Bandempo akan merilis single baru.


Join Our Cult
  • White SoundCloud Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White Instagram Icon
  • White YouTube Icon

© 2020 by noisewhore 

Curating Whatever's Left