Introducing: What We're Listening To #1

Updated: May 20

Oleh: Argia Adhidhanendra


Mungkin kami dikenal sebagai entitas penyelenggara acara di khalayak umum, namun awalnya, noisewhore merupakan webzine, apapun arti dari kata itu sekarang. Selama 6 bulan terakhir, kami kadangkala merilis artikel arsip atau artikel baru di website ini, dengan tujuan kembali meningkatkan motivasi kami untuk menerbitkan artikel atau konten-konten tulisan lainnya.


Sekarang, kami merilis satu rubrik baru: What We're Listening To, yang berisi ulasan singkat rilisan-rilisan selama beberapa bulan terakhir yang sedang kami dengarkan. Ulasan yang kami tulis belum tentu berbobot, mungkin kami mendengarkan lagu-lagu ini karena alasan personal, tapi apapun alasannya, kami merekomendasikan kumpulan lagu-lagu ini untuk para pembaca.


Rubrik ini akan dibagi menjadi dua bagian: Album & Track, dimana kami mengulas album di bagian pertama secara utuh dan di bagian kedua kami akan mengulas satu lagu dari satu album. Rubrik ini juga akan ditemani playlist yang berisi album dan lagu yang dibicarakan beserta beberapa tambahan lagu lainnya yang sedang kami dengarkan.


1. Fiona Apple - Fetch the Bolt Cutters (Album)

Sebagai orang yang lahir di akhir 90-an menuju awal 2000-an, saya tentu tidak terekspos dengan Fiona Apple era "Tidal", saya pertama kali mendengarkan Fiona Apple via Last.FM dengan albumnya di tahun 2012, "The Idler Wheel..." yang langsung menjadikan Fiona Apple sebagai salah satu singer songwriter favorit saya saat itu.


8 tahun setelahnya, "Fetch the Bolt Cutters" dirilis dan disambut dengan persetujuan yang hampir unanimous bahwa ini adalah salah satu album terbaik yang dirilis selama beberapa tahun terakhir. Saya sendiri harus setuju, saya memang bukan orang yang paham betul akan teknis produksi, namun lagu-lagu dalam album ini terasa begitu emosional dari sisi penulisan hingga produksinya. Lagu-lagu dalam album ini mengandalkan suara sehari-hari untuk menyentuh pendengarnya (Contoh: Suara gonggongan anjing) dan membawa pendengarnya ke perjalanan yang begitu personal. Dari kekecewaan hingga kemarahan. Seperti album yang memang ditakdirkan untuk dirilis dalam masa kegelisahan dan kemarahan seperti tahun 2019-2020.


2. Caleb Landry Jones - The Mother Stone (Album)

Saya merupakan penggemar berat label legendaris Sacred Bones, backlog rilisan mereka merupakan salah satu yang paling versatile yang saya ketahui. Ketika mereka mengumumkan Caleb Landy Jones, aktor yang saya ketahui dari film "Get Out", sebagai rilisan terbarunya beberapa bulan yang lalu, saya kaget bukan main. Sebagai konteks, ini merupakan rilisan pertama dari beliau. Sebelumya, beliau berkontribusi di official score "The Dead Don't Die". Hal ini ditambah dengan video yang dirpomosikan oleh Sacred Bones Records dimana beliau memainkan piano di tengah peternakan, memberikan rilisan ini faktor penasaran tersendiri bagi saya.


Hasilnya merupakan kumpulan lagu yang chaotic, melompat sana-sini dalam liriknya namun memberikan kesan yang unik bagi pendengarnya. Lagu seperti "I Want to Love You" merupakan favorit pribadi saya.


3. Yves Tumor - Heaven to a Tortured Mind (Album)

Yves Tumor merupakan salah satu artis yang selalu saya perhatikan 2 tahun terakhir, lagu pertama yang menggaet saya adalah "Noid" namun ketika saya melihat pendekatan artistik yang diambil oleh Sean Bowie membuat Yves Tumor salah satu musisi yang bukan hanya layak didengar, namun untuk ditonton, baik dalam bentuk video klip-nya maupun penampilan langsungnya.


Rilisan ini datang 2 tahun pasca rilisnya "Safe in the Hands of Love", salah satu album terbaik di 2018 menurut saya. Apa yang disajikan Yves Tumor di album ini merupukan kesinambungan dari rilisan sebelumnya, menyajikan produksi yang khas dan lirik yang masih berkutat dalam hal-hal yang sama. Hanya saja, dalam rilisan ini, penggunaan sampel dan instrumen yang digunakan menjadi lebih beragam dari rilisan sebelumnya.


4. Digable Planets - Blowout Comb (Album)

Sebagai edisi pertama dari rubrik ini, saya kira wajib rasanya membahas salah satu album favorit saya seumur hidup. Digable Planets merupakan trio hip-hop dari Brooklyn, walaupun personilnya berasal dari kota-kota yang beragam. "Blowout Comb" merupakan album terbaik dari trio ini, dirilis di tahun 1994, album ini masih bisa didengarkan dalam beberapa rilisan terbaru artis-artis lain dalam bentuk sampel.


"Blowout Comb" merupakan kompilasi lagu yang terasa lengkap dari awal hingga akhir. Penggunaan beragam instrumen dan produksi yang digunakan dalam album ini merupakan kombinasi yang belum pernah saya temukan dalam album manapun sejak pertama kali saya mendengarkan album ini saat saya masih di bangku SMP. Bagi pembaca yang penasaran, "Blowout Comb" sendiri memiliki makna tersendiri dalam konteks politik saat rilis.


5. BAPAK. - Pity Me (Track)

Saya tidak akan pernah bisa objektif menilai lagu ini karena ini benar-benar membawa saya pada hari-hari SMA saya bersama Kareem Soenharjo, mendengarkan lagu-lagu Mars Volta di iPod-nya.


Sudah lama rasanya saya tidak mendengarkan musisi lokal dan merasa tertantang untuk memperkaya referensi saya sendiri setelah mendengarkannya, namun dengan "Pity Me" saya merasakan itu kembali. Saya tidak merasa bahwa ini merupakan carbon copy dari karya orang. Instrumentasi dan produksi khas Kareem yang sudah familiar di kuping para pendengarnya masih terdengar jelas dalam lagu ini, namun dengan intensi yang berbeda.


6. Phoebe Bridgers - Garden Song

Jika saya harus memilih salah satu musisi yang saya temukan dan terus-menerus dengarkan selama dua tahun terakhir selain Mitski, saya akan mengatakan Phoebe Bridgers. Ironisnya, mereka berdua berada di bawah naungan label rekaman yang sama, Dead Ocean.


Mendengarkan lagu ini seperti menyaksikan film coming of age dalam durasi tiga menit. Penulisan lirik Phoebe Bridgers sangat tajam dan personal dalam lagu ini. "Garden Song" sebagai single memberikan preambule yang tepat untuk album yang kabarnya akan rilis dalam beberapa bulan mendatang.

Join Our Cult
  • White SoundCloud Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White Instagram Icon
  • White YouTube Icon

© 2020 by noisewhore 

Curating Whatever's Left