Kolektivisme: Solusi untuk Industri Musik di Tengah Pandemi

Updated: May 20

Artikel ini merupakan artikel komplementer dari edisi terakhir podcast kami, NWFM: Raka Ibrahim.

Ditulis oleh: Argia Adhidhanendra


Raka Ibrahim merupakan nama yang cukup kondang selama dua tahun terakhir. Buku dan artikelnya sekaligus cuitannya, kadangkala menjadi topik hangat di beberapa industri, dari industri musik hingga literatur. Saya merupakan salah satu penulis yang berada di bawah arahan beliau sebagai editor Jurnal Ruang dari tahun 2018-2019 sebelum Jurnal Ruang vakum. Sebelum dikenal sebagai penulis di media-media besar dengan audiens yang besar, saya mengenal Raka sebagai salah satu anggota Disorder Zine, sebuah zine yang digawangi oleh dua kawan kami, Zaka dan Ditkors. Pengalaman kami dalam industri musik-pun cukup lama, Raka yang sudah aktif di industri beberapa tahun sebelum saya mendirikan noisewhore.


1 Mei 2020, kami berjumpa secara virtual untuk berbincang-bincang dengan beberapa kawan di medium Discord dalam podcast milik noisewhore, NWFM, membicarakan satu topik yang selalu kami bicarakan tiap berjumpa: Menghujat industri musik, tentu dengan konteks tambahan pandemi yang sedang terjadi. Diskusi ini sebenarnya masih segar betul dalam benak kami, karena sehari sebelumnya saya menjadi narasumber dalam acara diskusi Raka Ibrahim bersama Disorder, Burzum. Pembahasan di bawah merupakan ringkasan poin-poin menarik dari diskusi kami.


Sebelum Pandemi: Kami adalah Radio Usang

Satu hal yang harus dibahas sebelum membicarakan industri musik hari ini di tengah pandemi, adalah mengamati apa yang terjadi sebelum pandemi. Satu poin yang diangkat oleh Raka Ibrahim adalah dependensi pelaku industri musik lokal dengan satu faktor tertentu dalam portfolio pendapatannya. Sebagai contoh, musisi lokal masih sangat tergantung dengan live music, dan pendapatan dari streaming yang tidak teralu signifikan. Masalah ini merupakan masalah yang sudah lama bergulir, musisi-musisi independen kadang kala rugi bandar ketika memasukan rilisannya ke streaming platform. Pada prinsipnya, hal ini diluar sana bisa diakali dengan menggunakan platform alternatif seperti Bandcamp. Sayangnya, Bandcamp sendiri masih kurang populer bagi audiens industri musik lokal, salah satu alasan utamanya adalah metode pembayaran yang kurang familiar bagi warga lokal. Contoh lainnya yang lebih sulit adalah para kolektif yang lebih dikenal sebagai penyelenggara acara tidak memiliki kontingensi dalam menjalankan acara-acaranya, mengakibatkan kerugian finansial yang sangat besar saat membatalkan suatu konser.


Perbincangan ini membawa kami pada satu pesan yang seringkali diserukan oleh beberapa pelaku industri selama beberapa tahun terakhir: Kolektif payung, serikat atau kolektif dalam bentuk apapun yang menjaga kepentingan dasar bersama, memastikan keberlangsungan suatu entitas dalam industri musik. Gerakan-gerakan seperti ini sudah nampak di Yogyakarta dalam beberapa cabang, salah satunya adalah penyeragaman harga tiket masuk gig lokal. Sayangnya, hal ini tidak begitu terlihat dalam industri musik di Jakarta. Kondisi yang sejujurnya bisa disamakan dengan hutan rimba dimana tiap entitas dalam industri berebut relevansi di depan audiens atau brand membuat terlahirnya gerakan kolektif yang memiliki bargaining power menjadi begitu pelik.


Ironisnya, Jakarta adalah salah satu kota dengan industri musik yang paling terhubung satu sama lainnya, pelaku-pelaku industri di Jakarta sudah hampir pasti kenal satu sama lain, atau paling tidak terhubung dengan mutual friends, membuat kenapa kita tidak memulai perbincangan untuk menjaga kebutuhan dasar demi berlangsungnya kehidupan entitas-entitas dalam industri musik menjadi lebih konyol. Saya pun tidak lepas dari kesalahan ini, dalam sektor promotor, saya kenal betul dengan individu-individu dibalik Studiorama dan 630 Recordings, dan memang kita beberapa kali membuat konser bersama. Perbincangan mengenai gerakan yang lebih besar untuk melindungi promotor-promotor independen baik non-independen skala menengah seperti kami pun sudah pernah dibicarakan, namun tidak pernah direalisasikan karena satu dan lain hal.


Sekarang, industri ini menerimah getahnya di tengah pandemi.


Saat Pandemi: Buah Bobroknya Ekosistem Industri

Saat pandemi menimpa, kondisi yang saya jabarkan sebelumnya membuat dampak COVID-19 menjadi jauh lebih berat bagi industri musik, terutama di kota seperti Jakarta dibanding kota seperti Yogyakarta. Tidak adanya gerakan kolektif yang melindungi kepentingan bersama membuat tiap-tiap entitas di Jakarta untuk pivot dan bermanuver masing-masing untuk menjaga keberlangsungan masing-masing entitas, salah satu contohnya adalah vendor sound system Bayusuara yang beralih ke jasa pembelian dan pengantaran sayur-sayuran untuk mendapatkan pendapatan. Di sisi lain, kota seperti Yogyakarta sudah membuat beberapa gerakan untuk mengurangi dampak pandemi, salah satunya adalah gerakan Sama-Sama Makan yang dijalankan oleh musisi Frau dengan beberapa kawan lainnya.


Kondisi seperti ini membuat beberapa entitas dan pelaku dalam industri musik, terutama di kota-kota seperti Jakarta yang tidak memiliki gerakan khusus seperti Yogyakarta, memiliki kesenjangan dalam kapabilitas untuk bertahan. Ada beberapa musisi atau entitas yang dapat bertahan dari produksi merch atau konten online dengan menggandeng brand-brand yang rela membayar mahal untuk suatu campaign. Di sisi lain, kolektif atau musisi yang skala-nya masih kecil atau tidak memiliki relasi dengan brand mengalami tantangan yang lebih berat, terlebih jika mereka mengandalkan musik sebagai penghasilan utama.


Lagi-lagi, ironisnya, semua pelaku industri ini sangat terhubung satu-sama lainnya, namun dalam hal cuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dalam industri dan mempertahankan relevansi, dilimpahkan pada individu masing-masing entitas.


Setelah Pandemi: Tatanan Baru Industri Musik

Seharusnya, melihat kondisi hari ini bagi industri musik, masing-masing pelaku dan entitas di dalamnya sadar bahwa ekosistem di masing-masing kota harus diperbaiki. Kita dapat menjadikan gerakan-gerakan di Yogyakarta atau Bandung misalnya sebagai barometer untuk memperbaiki ekosistem.


Orang-orang yang mendapuk dirinya sebagai "tokoh" dalam industri musik, terutama industri musik independen, beserta media-media yang dapat mempengaruhi diskursus dalam industri, memiliki tanggung jawab tersendiri untuk memulai percakapan dan memobilisasi sumber daya yang mereka miliki untuk merealisasikan pergerakan ini.


Hal yang saya bicarakan disini bukanlah gerakan besar-besaran, namun gerakan-gerakan kecil yang diprakarsai dengan tulus oleh pelaku-pelaku industri, bukan untuk konten atau engagement, namun untuk menjaga kepentingan dasar teman-teman sekitarnya dalam industri. Pergerakan ini bisa dimulai dengan pelaku-pelaku dalam satu sektor atau satu perkumpulan, sekecil apapun itu, kolektivisme, saling jaga antar teman pelaku industri musik, adalah solusi untuk industri musik.

Join Our Cult
  • White SoundCloud Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White Instagram Icon
  • White YouTube Icon

© 2020 by noisewhore 

Curating Whatever's Left