Melihat Lanskap Konsumsi Konten Digital Hari ini

Updated: Jun 6

Artikel ini merupakan artikel komplementer dari edisi terakhir podcast kami, NWFM: Teguh Wicaksono (Sounds From The Corner)

Ditulis oleh: Danang Joewono

Editor: Argia Adhidhanendra & Aliyya Asra

Cover Foto oleh: Aliyya Asra

Kemungkinan besar, musisi Indonesia yang pembaca sukai selama 5 sampai 10 tahun terakhir sudah pernah didokumentasikan di kanal Youtube Sounds From The Corner (SFTC). Sejak tahun 2012, Sounds From The Corner yang terdiri dari 10 orang sudah mencoba untuk mengkurasi dan mendokumentasikan pertunjukan live dari berbagai musisi di Indonesia. Pada Sabtu 30 Mei kemarin, saya bersama Argia dan teman-teman noisewhore lain kedatangan Teguh Wicaksono, salah satu pendiri Sounds From The Corner sebagai narasumber edisi NWFM kali ini.


Bagi pembaca yang belum familiar, Teguh Wicaksono merupakan salah satu dari dua pendiri entitas Sounds from the Corner, sebuah tim produksi yang dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia, bukan hanya dengan nilai produksi yang tinggi, namun diversifikasi konten yang beragam. Selain dari kurasi artis yang beragam, dari Raisa hingga Murphy Radio, formatnya pun senantiasa berubah dari episode pertamanya di tahun 2012. Saat kami berbincang dengan Teguh, SFTC baru saja merampungkan beberapa sesi livestream dengan musisi seperti Kurosuke dan The Panturas dan juga melakukan beberapa sesi Taste Test, semua ini bisa diakses dalam kanal yang sama.


Sounds From The Corner Youtube Page


Saat kami tanya apa motif Teguh dan Dimas saat itu dengan mendirikan SFTC, jawaban yang kami terima bisa dibilang unik. Menurut Teguh, saat itu di tahun 2012 pengarsipan musik secara umum bisa dibilang bukan prioritas, Teguh menyebut beberapa contoh seperti penampil musik di acara Dahsyat pada saat itu kadangkala dipotong oleh pembawa acara dan hanya sekadar bumbu untuk acara tersebut. Berangkat dari kekhawatiran ini, Teguh dan Dimas mendirikan SFTC dengan tujuan dasar sebagai pengarsip musik. Cita-cita Teguh dibalik pendirian SFTC saat kami tanya hanya satu: Arsip-arsip SFTC nantinya bisa ditonton oleh generasi selanjutnya. Teguh memberi contoh bagaimana ia membayangkan di tahun 2030, orang-orang bisa menonton performance The Upstairs di kanal Youtube SFTC. Sejalan dengan motif pengarsipan, motif lain SFTC adalah membuka akses terhadap music discovery secara dua arah, antara musisi dengan pendengar.


Industri musik memang selalu dinamis dan mendorong pelaku di dalamnya untuk terus berinovasi, baik dari segi karya ataupun format penyampaiannya. Untuk dapat memahami dan berperan aktif dalam industri musik di Indonesia, kita perlu mengerti bagaimana musik dan konten di sekitarnya dikonsumsi. Teguh sempat menuliskan tentang observasinya perihal bagaimana kini musik dikemas dan dipasarkan sebagai “konten”. Konten yang dimaksud disini mungkin erat kaitannya dengan teknik pemasaran musik yang semakin beragam hari ini.


Mungkin contoh yang paling populer adalah gerakan KFC sebagai waralaba ayam goreng untuk menjual album musisi Indonesia selama satu dekade lebih. Kondisi ini menimbulkan pro dan kontra tersendiri, beberapa menilai ini sebagai degradasi nilai kreatif dari musisi tersebut, ada pula argumen tersendiri bahwa ini merupakan teknik pemasaran yang positif. Menurut saya sendiri, selama musisi-musisi ini tidak membuat lagu semata-mata untuk diorbitkan oleh KFC dengan membuat lagu yang sifatnya lowest common denominator sebetulnya sah-sah saja.


Kembali ke kondisi hari ini perihal musik dan konten-konten di sekitarnya, menurut Teguh, lanskap konsumsi digital di Indonesia sifatnya sangat fickle. Terlebih dengan situasi hari ini di tengah pandemi, infrastruktur di Indonesia mungkin tidak selalu rata dan stabil untuk dapat mendukung konsumsi konten digital secara on-demand. Sayangnya, untuk saat ini kita tidak punya banyak pilihan. Musisi, penyelenggara acara, konsumen, dan pihak-pihak lain yang menikmati dan menyambung hidup dari pertunjukan musik (Termasuk brand-brand yang butuh mempromosikan produk atau layanan mereka) sedang mencoba untuk menyesuaikan diri, tentu saja dengan alasan dan cara yang berbeda.


Musisi mungkin tidak semuanya memiliki sumber daya dan modal yang sama. Dari sekian banyak jadwal panggung dan jadwal rilis yang harus disesuaikan dengan kondisi saat ini, tidak semuanya punya dukungan dan akses cukup untuk dapat mengatur dan mengadakan pertunjukan secara daring. Banyak musisi yang tidak memiliki akses ini perlu mencari pendekatan lain untuk dapat tampil dan berinteraksi dengan audiens mereka. Untuk penyelenggara acara dan pekerja di dalamnya, semuanya terpaksa harus merencanakan acara dalam ke-abu-abu-an. Ada beberapa acara musik yang dipindahkan sepenuhnya ke format livestream, ada yang memindahkan tanggal penyelenggaraan ke waktu yang dianggap sudah lebih aman, ada juga yang masih mencoba untuk tetap menjalankan sesuai rencana dan tanggal asli mereka. Konsumen pun mencoba untuk mengikuti sebisa mereka. Ada yang sudah cepat mengadopsi format daring dari pertunjukan musik dan sudah rela membayar selayaknya pertunjukan fisik. Di sisi lain, ada segmen konsumen yang belum siap dengan pergeseran ini, baik dari segi konektivitas maupun preferensi.


Semua adaptasi ini dilakukan dengan tempo yang sangat cepat, kurang lebih 2 bulan selama ketentuan pemerintah untuk tetap di rumah. Satu hal menarik yang kami perbincangkan adalah arah selanjutnya dari adaptasi ini. Apakah adaptasi ke arah digital ini akan bertahan dan layak dipertahankan baik bagi musisi dan konsumen. Sebuah educated guess dari Teguh memprediksikan bahwa shift ini nantinya akan ditinggalkan untuk sementara ketika konser-konser fisik sudah diperbolehkan untuk diadakan kembali. Kasarnya, para konsumen (Dan mungkin juga para musisi dan organizer, beserta entitas-entitas terkait) menebus rindu pada konser musik fisik. Aspek terpenting dari fenomena ini adalah, seyogyanya pelaku-pelaku industri tetap memelihara konten-konten digital agar nantinya saat rindu terhadap konser fisik kita sudah terbayarkan. Harapannya, budaya-budaya yang sudah kita tanamkan selama 2 bulan terakhir tidak ditinggalkan sepenuhnya dan dapat menjadi opsi yang viable baik untuk konsumen maupun pelaku industri.


Dari pengalaman saya sebagai penggiat musik yang sedang dalam proses produksi sebuah karya musik, rencana awal untuk menyelesaikan produksi, merilis dan menampilkan karya kami harus disesuaikan dengan sumber daya yang kami miliki. Waktu dan format rilis yang direncanakan sebelumnya sudah pasti harus kami ubah. Pertunjukan fisik yang sebelumnya ingin kami adakan untuk menyambut rilisan kami, mungkin akan kami ubah sebagai listening session dan diskusi yang bersifat daring. Kami belum tahu mana yang lebih baik dan efektif, namun kami rasa pendekatan ini dapat digunakan untuk menjaga hubungan dengan pendukung dan teman-teman kami. Sebagai bagian dari noisewhore yang cukup rajin menyelenggarakan pertunjukan musik di tahun-tahun sebelumnya, kami juga harus menyesuaikan output yang kami keluarkan. Rencana untuk mengadakan konser-konser fisik kami tunda sampai waktu yang dianggap aman, dan kami fokus untuk mengeluarkan output dalam bentuk tulisan dan juga podcast. Kami menggunakan kesempatan untuk mengeluarkan tulisan melalui situs noisewhore sebagai sarana untuk memantik diskusi dari kami untuk audiens kami. Dari podcast NWFM, kami ternyata menemukan komunitas tersendiri dari platform Discord untuk berkenalan dan bertukar pendapat dengan teman-teman baru.


Pendekatan-pendekatan baru sebagai penggiat musik dan juga sebagai penyelenggara acara ini saya rasa bisa dipertahankan dan dikelola menjadi sesuatu yang lebih sustainable bahkan setelah pandemi ini selesai.


Situasi ini berbeda dengan brand-brand yang sedang mencoba untuk mempromosikan produk atau layanan mereka saat ini. Menurut Teguh, dia melihat ini lebih sebagai means to an end bagi brand-brand tersebut. Dengan budget yang tersedia dan lanskap konsumsi yang kebetulan sedang berubah, format daring merupakan satu-satunya hal yang masuk akal untuk diadopsi oleh brand saat ini. Sumber daya dan infrastruktur yang tersedia pun membantu mereka untuk mengeksekusi rencana seperti ini secara matang dan “keren”. Teguh yakin bahwa pendekatan dengan format ini sangat mungkin akan ditinggalkan ketika format lain (seperti pertunjukan fisik) kembali aman dan relevan untuk diadopsi.


Melihat banyaknya kepentingan dalam lanskap konsumsi konten digital di Indonesia, Teguh beranggapan bahwa karakter dan konsistensi menjadi tantangan tersendiri yang perlu dipertahankan oleh entitas yang ingin menjaga nilai-nilai mereka. Tantangan ini dapat berlaku untuk brand, penyelenggara acara, musisi, dan bahkan konsumen-nya. Konsistensi menjadi hal yang kerap kali diuji karena kita sedang hidup dimana akses untuk informasi sangat terbuka dan mudah dipelajari. Tidak hanya saat ini dimana pandemi sedang berlangsung, pada waktu-waktu lain juga dapat diperhatikan entitas mana saja yang kerap kali mengubah fokus dan mengadopsi pendekatan serta nilai-nilai relevan untuk dapat mencapai tujuan komersil yang mereka miliki. Hal ini tidak selamanya negatif. Hanya saja, karakter, konsistensi, dan nilai yang (pada awalnya) dibawa seringkali dikorbankan pada proses adopsi ini. Satu hal yang kami observasi selama enam tahun berada di industri ini, memiliki slant tersendiri dan fokus yang unik dapat membawa anda cukup jauh dalam industri ini. Di sisi lain, mengikuti suatu tren di waktu tertentu, tidak menjamin minat audiens secara jangka panjang. Saya pribadi bisa saja menyebut tren dokumentasi musik seperti SFTC yang banyak diikuti oleh beberapa entitas lain di tahun 2017-2018, contohnya adalah sesi Together Whatever yang didukung oleh perusahaan rokok Camel yang sangat gencar mengejar tren ini dengan merilis lebih dari 10 sesi live dan bubar jalan tidak lama setelahnya, entah karena mereka gagal untuk menemukan tren selanjutnya atau tidak mendapatkan kucuran dana lanjutan dari Camel.


Mengenai poin ini, dalam konteks pribadi, kami mengaitkan konsistensi dengan umur dan kepentingan seseorang yang berubah seiring dengan progresi karir mereka di industri ini. Teguh berpendapat bahwa umur seseorang di dalam industri musik biasanya tidak panjang. Melihat ke belakang saat pertama masuk ke industri musik di tahun 2009 sebagai manager dari The Trees & The Wild, Teguh sadar bagaimana banyak dari rekannya yang sudah meninggalkan industri ini karena ada cara lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selain dari musik. Atau mungkin masih bertahan di industri musik, namun sudah mengorbankan nilai-nilai yang awalnya mereka bawa saat memulai karir. Mungkin saja, tendensi untuk mengorbankan nilai-nilai demi mengejar kepentingan bisnis atau relevansi kerap kali muncul karena hidup sebagai bagian dari industri musik arus pinggir tidak selalu menguntungkan secara finansial. Disisi lain, beberapa entitas yang masih bertahan dari 2009 hingga hari ini mungkin sudah melalui beberapa perubahan dari output yang mereka keluarkan maupun dari segi komersialisasinya, namun prinsip-prinsip yang mereka pegang sejak awal tidak berubah.


Hal ini dapat kita lihat dari bagaimana Teguh melakukan kurasi konten yang dikeluarkan oleh SFTC dimana Teguh dan rekan-rekan-nya konsisten menjaga nilai yang mereka bawa dari dulu sampai sekarang. Setelah 400 ribu pengikut, ribuan video, dan beberapa kerjasama brand, dengan pendekatan beragam, entah melalui dokumentasi live SFTC, Archipelago Festival, atau kerjasama dengan agordi untuk Taste Test ++ dan Punggung Panggung, tujuan dasar untuk mengarsipkan musik dan membuka akses bagi semua orang dari Teguh dan kawan-kawan tidak berubah.


Join Our Cult
  • White SoundCloud Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White Instagram Icon
  • White YouTube Icon

© 2020 by noisewhore 

Curating Whatever's Left