Menggugat Maraknya Gelaran Musik di Jakarta

Updated: May 20

Oleh: Argia Adhidhanendra

Editor: Raka Ibrahim


Artikel ini pertama kali dimuat di jurnalruang. Sekarang sudah tidak aktif. Mari doakan mereka aktif kembali.


Bisa dibilang, 2018 merupakan tahunnya gelaran musik di Indonesia, khususnya Jakarta. Scene Ibukota seolah kebanjiran musisi lintas genre dari luar negeri, mulai dari grup indie pop hingga hardcore. Saya pun tidak luput dari keramaian ini. Mungkin kolektif yang saya ikut dirikan, noisewhore, adalah tersangka utama dalam perkembangan ini, dengan total enam acara kami adakan hingga Oktober. Maka, saya berada dalam posisi yang unik. Kolektif yang saya lahirkan sejak SMA dan rutin membuat acara sejak 2015 terlempar ke sebuah skala yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


Perkembangan noisewhore yang cukup unik mengekspos duduk perkara pagelaran musik dengan jelas. Anggap saja tulisan ini sebagai crash course tentang pagelaran yang membanjir di Jakarta tahun ini dari pandangan seseorang yang tahun lalu masih membuat acara bawah tanah di bilangan Blok M dan tahun ini membuat enam acara sekaligus dalam skala internasional.


Saya harus memulai dengan mengenalkan para pelaku “promotor” yang bekerja di Jakarta hari ini. Pertama, tentunya ada korporasi yang selalu bernaung di industri mana pun dengan ambisi megah serta marketing yang mahacanggih. Pelaku semacam ini rasanya tak perlu dijelaskan lebih lanjut. Kedua, mahasiswa. Saya pribadi pernah melewati fase ini. Teman dan rekan duet saya di noisewhore, Abdul Defashah, juga pernah menjabat sebagai ketua penyelenggara Music Gallery #7 yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan bintang tamu termasyhur, Honne.


Sebagai mahasiswa, saya tergelitik mengatakan hal ini untuk seluruh mahasiswa perguruan tinggi yang hari ini sedang berlomba-lomba membuat pagelaran musik: Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Saya rasa tidak pantas jika kita sebagai mahasiswa lalai akan tiga poin ini dan malah berlomba-lomba, bahkan berebut mengundang artis yang itu-itu saja. Sebagai pembanding, saya rasa hanya di Indonesia saja, khususnya Jakarta, yang memiliki satu perguruan tinggi dengan setidaknyatiga (!!!) festival yang memiliki ambisi sama. Ketiga, pemain terakhir adalah tren terbaru dalam scene musik lokal, promotor kecil-kecilan.


Kurasi atau Tren? Menggugat Klaim “youtube-core


Terlepas dari aksi korporasi besar yang memang sudah kita ketahui bersama gelagatnya, dua pelaku yang saya sebut terakhir adalah penyebab menjangkitnya gelaran musik saat ini. Tipikal musik yang mereka kurasi membawa saya pada “genre” yang paling membuat saya bergidik: youtube-core.


Akan tetapi, mari kita perjelas sesuatu di sini: orang yang melabeli sesuatu sebagai youtube-core adalah orang yang sembrono. Kita bisa mengakui munculnya “genre” atau subkultur semacam youtube-core, tapi istilah itu sendiri mulai digunakan sebagai label payung untuk menyindir band-band dengan style indie pop imut (meski tidak harus indie pop) dan estetika throwback yang terkenal akibat algoritma YouTube dan media sosial. Oleh karena itu, saya akan mencoba menghindari menggunakan istilah tersebut untuk melabeli band-band yang didatangkan oleh para organizer konser mahasiswa dan promotor kelas mini. Satu hal perlu kita akui bersama dengan khidmat: kurasi pagelaran musik hari ini merupakan fenomena groupthinkterbesar dari generasi muda Jakarta dalam beberapa tahun belakangan.


Jika diurut kembali, rasanya saya bersama dua kolektif lain harus mengaku bersalah sebagai salah satu faktor pendorong adanya groupthink kurasi musik internasional hari ini. Pangkal bermulanya fenomena ini rasanya bisa kita atribusikan pada konser Fazerdaze yang diselenggarakan noisewhore pada Oktober 2017. Kasus Fazerdaze merupakan pendorong utama karena konser itu adalah awal mula konser independen yang sama sekali tidak mengandalkan sponsor ataupun campaign yang wah. Sumber pemasukan konser Fazerdaze pun murni mengandalkan penjualan tiket yang saat itu sold out dalam empat hari.

Dari sini, fenomena ini dikonfirmasi oleh gelaran saya sendiri dengan headline Peach Pit dan Sunset Rollercoaster serta Musik Gallery yang diselenggarakan pada bulan yang sama. Setelah itu, kita rasanya dibanjiri oleh pagelaran musik. Pemain lama dan baru mulai melirik potensi kurasi musik seperti ini dengan artis headline yang bisa dibilang kecil dan rasanya terlalu niche untuk dapat berkembang di sini. Hasilnya, kita bisa melihat kurasi dengan jenis musik serupa dieksploitasi habis-habisan.


Publik konser lokal mulai kebanjiran pilihan dan jumlah konsumen pun bertambah. Sayangnya, perkembangan ini tidak didampingi dengan edukasi yang tepat. Banyak penonton yang biasanya menyaksikan We The Fest atau menonton headline show band cover di kafe dingin dengan sofa nyaman atau bahkan yang belum pernah menonton konser sebelumnya diteleportasi ke venue seperti Viky Sianipar Music Centre atau Rossi Musik. Komunitas yang tadinya tight-knit berkembang secara eksponensial. Perkembangan ini disambut meriah oleh banyaknya pemain baru yang oportunis, meskipun penonton yang ada bisa dibilang masih volatile perilakunya. Karena kondisi ini, masa depan pagelaran musik internasional terbilang cukup suram.

Pemain-pemain baru ini melihat ladang basah, tapi memiliki praktik bisnis yang patut dipertanyakan, terutama dalam ranah bidding war untuk berebut artis. Saya tidak akan terlalu mengkritisi kurasi yang ada, baik dari festival yang menarik penonton dengan band lokal yang wah karena headliner yang mereka boyong dari luar negeri dirasa kurang menarik penonton, hingga headline show yang dari awal dirasa tidak akan sesuai dengan iklim lokal. Ini semua hal yang relatif dan untuk menganalisis hal seperti ini perlu banyak sekali responden.


Membayar Terlalu Layak


Hal yang faktual saya lihat langsung adalah praktik bisnis yang berakibat pada menanjaknya harga artis-artis yang kita semua tahu jenisnya. Mulai dari announcement bodong artis Korea Selatan untuk festival di Bandung hingga bidding war bodong juga.

Saya memiliki satu anekdot paling berkesan tahun ini dengan orang yang sama. Pertama adalah keterlibatan saya dalam bidding war untuk suatu band. Setelah satu minggu bidding war dengan lawan yang saya tidak ketahui namanya saat itu, saya memutuskan mundur. Kilas cepat ke malam final Liga Champions, pada pukul 1 malam, saya sedang mengenakan baju merah-merah, jantung saya tak henti-hentinya berdegup (nantinya malam ini saya menangis, tapi itu pembahasan lain) saat tiba-tiba ponsel berdering. Awalnya hanya ada satu baris chat dari orang yang tak saya kenal via LINE. Ia memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari kolektif baru dan butuh berbicara dengan saya lewat telepon. Agak lancang rasanya untuk saya yang sedang berdebar-debar di malam final Liga Champions, tapi siapa tahu penting. Betapa terkejutnya saya saat menerima telepon dari lawan bidding war selama ini!


Ia menanyakan teknis-teknis dasar dalam menawar artis (padahal ini pengetahuan dasar: cukup Google nama agensinya dan Anda email bolak-balik hingga muak) dan saya menjawab segala pertanyaan hingga muncul pertanyaan dari beliau perihal uang. Alamak, ternyata orang yang bersangkutan, yang baru saja memenangkan bidding war dengan saya, tidak memiliki uang untuk membayar artisnya. Ia bahkan bertanya bagaimana cara ia kabur dari agensi artis yang bersangkutan.

Saya mungkin tidak sedang berpikir lurus karena sebentar lagi Mohamed Salah akan dibanting oleh makhluk paling bajingan di dunia ini, tapi saya paham bahwa sebagai promotor Anda tidak boleh bid and run dengan artis mana pun.


Percakapan diselesaikan dengan saran saya untuk tidak bid and run dan supaya ia mencari cara lain. Betul saja, besoknya agen band bersangkutan mengirimkan surel dengan harga terbaru, menerangkan bahwa bid kemarin ternyata bid kosong. Saya yang terlanjur muak menolak tawaran itu. Untungnya, band ini tetap datang ke Indonesia. Walau harus dengan harga yang tidak murah dan menurut saya, pihak bersangkutan, senada dengan tren yang berjalan saat ini, overpaying band tersebut.

Perlu dicatat, jika ada band yang dibayar mahal, saya senang bukan kepalang, terlebih band kecil yang datang jauh-jauh dari benua lain. Akan tetapi, pertanyaan selanjutnya ada pada sustainability bisnis lokal yang ada di sini. Bagaimana tidak–korporasi, terutama rokok, sudah tertarik, pemain yang sembrono juga sudah ada di lapangan. Jika korporasi dan pemain baru ini mulai menarik band-band internasional skala kecil itu dan sibuk overpaying, seperti apa nasib promotor-promotor kecil yang sudah berjalan bertahun-tahun? Lebih jauh lagi, bagaimana nasib ekosistem tur ini ketika mereka merasa tren tersebut telah surut?


Masih ada contoh booking agent yang konsisten dalam jalurnya, tanpa mesti latah mengikuti tren. Teuku Fariza, misalnya. Ia adalah orang di balik BNA Youth Booking yang berperan sebagai boutique booking agent yang berakar pada scene hardcore dan punk. Setelah berjalan sepuluh tahun, ia memiliki pandangan lebih positif dan sikap yang jelas. “Empat tahun terakhir saya lumayan pemilih soal artis yang akan saya bawa,” tuturnya. “Kalau band itu bisa bikin kami ternganga, lebih besar kemungkinan saya menjajaki mereka.”


Dengan mantra seperti ini, BNA Youth Booking bisa terus konsisten. Bukti bahwa mengikuti tren bukan satu-satunya jalan untuk terjun ke bisnis. Fenomena booking agent dengan selera stereotip youtube-core juga bukan hal yang unik. Teuku enteng-enteng saja membahas sindiran/candaan bahwa kurasi artis BNA terlalu berfokus pada artis-artis di roster Run for Cover Records.


Teuku belum pernah mengalami kejadian absurd semacam yang saya alami di malam nahas tersebut, tapi ia mengakui kejadian semacam ini ada. BNA sendiri pernah di-outbid dua kali oleh booking agent lain. Akan tetapi, ekosistem di segmen hardcore/punk lebih sehat karena fenomena bidding war dan perebutan artis tidak begitu kentara, meski tidak sepenuhnya absen. Bagi Teuku, jika suatu entitas konsisten dan memiliki orientasi jangka panjang, komunitas dan segmentasi akan terbentuk terlepas dari kurasi yang disajikan. Hal inilah yang kemudian menjadi kunci sustainability.


Memilah Pengaruh


Akar dari isu yang coba saya sampaikan di sini adalah kurasi. Pemain-pemain kampus dan promotor-promotor ceroboh ini seakan melihat lahan basah dengan memilah band yang viral. Dalam sebuah obrolan, kawan dari Microgram Entertainment bahkan sempat “menyalahkan” saya karena banyak band medioker luar negeri datang ke Indonesia setelah Noisewhore Live membawa Sunset Rollercoaster dan Peach Pit. Tentu, candaan ini relatif. Band tertentu bisa jadi medioker bagi sebagian orang, tetapi jadi favorit bagi orang lain di luar sana.


Semua ini mengingatkan saya pada era tahun 2010-2012 ketika Urbanite, Soundsations, dan bahkan Ismaya Live memboyong artis seperti MGMT dan Ben Folds dengan venue andalan Bengkel Night Park. Saat itu saya mungkin baru lulus SD, tetapi gaungnya terdengar sampai ke telinga bocah ingusan seperti saya. Tahun 2018 dan tahun-tahun berikutnya rasanya akan sama seperti fase 2010 hingga 2012, bedanya dengan kurasi yang (mungkin) lebih medioker. Jika di tahun 2011 kita menikmati MGMT, Ben Folds, Warpaint, N.E.R.D dan Whitest Boy Alive, tahun ini kita disuguhi beragam festival (yang sebagian mungkin dipaksakan) dan beberapa headline show skala kecil hingga menengah.

Saya mengambil data dari satu festival dan dua headline show tahun ini dan dari segi finansial, hasilnya beragam. Ada satu festival dengan headline yang bisa dibilang viral merugi besar, sama dengan satu headline show baru-baru ini yang cukup merasakan kerugian signifikan. Di sisi lain, ada pula headline show tanpa sponsor dua bulan silam yang meraup keuntungan sangat besar hanya dari penjualan tiket.


Di sini saya mencoba untuk merasionalisasikan proses bisnis dari ketiga gelaran yang saya sebutkan tadi. Ketiganya memamerkan artis yang cukup viral sebagai headline festival ataupun headline show. Ketiga gelaran ini terjadi di tahun 2018, tapi kenapa hasilnya berbeda secara keuangan?

Muncul faktor yang menurut saya paling krusial dalam mendatangkan artis-artis viral seperti ini: harga yang tidak bisa diprediksi dan pola pikir organizer lokal. Booking fee artis-artis yang viral seperti ini sangat sulit diperkirakan. Coba suruh para analis sekuritas top untuk memvaluasi harga band-band seperti Boy Pablo atau Billie Eilish, saya cukup yakin dari lima valuasi paling tidak ada dua yang salah.

Maka, di tengah pasar yang masih sangat volatile ini, tidak heran kedua headline show yang saya sebut di atas menuai nasib berbeda. Bagaimana tidak, salah satu headline show tersebut membayar tiga kali lipat booking fee bila dibandingkan gelaran sebelah, walaupun kelas artisnya sama. Promotor kecil di sini seakan menjadi mainan agensi di luar negeri untuk menentukan harga di pasar Asia. Saya rasa, sudah ada terlalu banyak festival di sirkuit konser lokal, sehingga jika jumlahnya berkurang barangkali nilai dari masing-masing festival akan bertambah. Tapi, sayang sekali jika gelaran headline show skala kecil-menengah berkurang drastis jumlahnya akibat pengambilan keputusan bisnis yang ceroboh.

Saya yakin di luar sana masih banyak promotor kecil yang sedang dilahirkan, mungkin beberapa membaca artikel saya sambil meeting dengan investor untuk mendatangkan artis ke Indonesia. Atau mungkin, artikel ini dibaca beberapa pemain lama yang mencoba kembali ke dalam gelanggang. Satu hal yang jelas, gelaran-gelaran musik akan terus membengkak. Apa yang coba saya serukan di sini adalah bagaimana kita sebagai promotor maupun penonton berhasil menciptakan budaya dengan gelaran musik rutin. Saya pun senang bukan kepalang bisa menikmati budaya ini di tahun 2018, baik sebagai penonton maupun organizer.


Sehingga rasanya saya perlu menyerukan pentingnya gatekeeping. Dengan memperbanyak diskusi dan riset, kita dapat meminimalisir groupthink dari segi kurasi. Diskusi dan riset yang saya maksud bukan semata-mata untuk menggali selera penonton lokal, melainkan juga merotasi kurasi artis yang akan disajikan sehingga konsumen tidak terekspos pada jenis musik yang itu-itu saja.

Dari segi bisnis, saya ingin menyerukan pada promotor baru atau lama, dan bahkan pemain-pemain acara kampus, untuk berhenti sikut-sikutan. Seringkali pengambilan keputusan sembrono ini berawal dari bidding war. Jika kita sedang berebut artis tier agak tinggi semacam Kings of Convenience, mungkin praktik semacam ini terbilang wajar. Akan tetapi, jika kita memperebutkan artis viral yang segmentasi konsumennya masih dipertanyakan dan gelaran itu sendiri sudah berisiko, seringkali ujungnya kita hanya akan merugikan salah satu pihak.


Akan menarik untuk melihat perkembangan gelaran-gelaran ini dalam beberapa tahun ke depan. Saat terbitnya artikel ini, noisewhore sendiri hanya akan mengadakan satu gelaran lagi di tahun ini dan akan vakum menyelenggarakan headline show sampai tahun depan, setidaknya. Hal ini akan memberikan perspektif penonton yang lebih fokus. Setelah itu? Mungkin premis yang saya beberkan di naskah ini perlu kita telusuri lebih lanjut. (*)


Join Our Cult
  • White SoundCloud Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White Instagram Icon
  • White YouTube Icon

© 2020 by noisewhore 

Curating Whatever's Left