Meninjau Upaya Irama Nusantara Dalam Pengarsipan Musik

Updated: Aug 25

Artikel ini merupakan artikel komplementer dari edisi terakhir podcast kami, NWFM: Gerry Apriyan (Irama Nusantara)

Ditulis oleh: Kevin Silalahi

Editor: Aliyya Asra & Argia Adhidhanendra


Akrab dikenal sebagai entitas yang giat berinisiatif dalam perihal pengarsipan musik, Irama Nusantara berdiri atas kecintaan terhadap karya musik Indonesia dan keterdesakan atas absensinya database musik yang layak. Didirikan oleh 6 penggiat musik: David Tarigan, Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunata, Norman Illyas, dan Dian Wulandari, Yayasan ini resmi beroperasi sejak tahun 2013 dengan upaya untuk melestarikan budaya Indonesia melalui pendataan dan pengarsipan musik populer Indonesia dari berbagai zaman.

Source: Irama Nusantara Youtube


Bila dilihat, memang upaya tersebut sangatlah mulia dan memiliki nilai-nilai nasionalisme tinggi, oleh karena itu, kami berharap dengan episode 13 podcast NWFM ini kami dapat telusuri lebih dalam mengenai pergerakan Irama Nusantara dan seberapa pentingnya pengarsipan musik di Indonesia. Dalam segmen ini, kami diberi kesempatan untuk berbincang dengan salah satu pengurus dibalik Irama Nusantara, Gerry Apriyan. Memang dalam episode ini Gerry merupakan delegasi dari Irama Nusantara, namun perbincangan kami bersama Gerry diluar ekspektasi saya. Selain bicara mengenai Irama Nusantara, kami menyinggung perihal mengenai keterbelakangan pemerintah, pengarsipan musik hingga upaya pelestarian musik Indonesia bagi berbagai entitas dan banyak nilai-nilai penting yang dapat kami petik dari episode NWFM kali ini.


Awal mula perjalanan Gerry bersama Irama Nusantara dimulai dari sebuah direct message yang dilontarkan kepada pengelola Irama Nusantara. Tanpa memiliki hubungan personal alias “kenal” dengan salah satu pengelola, ternyata Irama Nusantara cukup akrab dan terbuka akan potensi bala bantuan dari individu yang berinisiatif. Upaya tersebut membuktikan bahwa modal untuk mencari kanal dalam berkontribusi terhadap sesuatu yang kita minati sangatlah mudah di era digital ini. Pada tahun 2015, Irama Nusantara menyambut Gerry untuk menjadi salah satu pengelola dari yayasan tersebut.

Photo Courtesy of Gerry Apriyan


Jadi, apa itu pengarsipan musik? mungkin bagi orang awam seperti saya, kata pengarsipan identik dengan perpustakaan dimana kumpulan karya literatur disimpan, dijaga dan dibuka bagi masyarakat untuk ditelusuri. Mengenang kunjungan saya ke perpustakaan, saya teringat masa badung saya dimana saya sering mengambil beberapa buku untuk sesi skim reading yang tidak penting lalu meletakkannya seenak jidat saya dan bila dipikir-pikir hal tersebut pasti sangat merepotkan bagi sang pustakawan yang setiap hari dituntut untuk memelihara arsip literatur tersebut. Pekerjaan pengarsipan mungkin sebuah pekerjaan berat yang sering dipandang sebelah mata, terutama pengarsipan musik yang cenderung asing didengar. Saya sempat berpikir akan urgensi dari pengarsipan musik menimbang adanya internet, dimana saya dapat menelusuri semua jenis musik yang saya mau dengar, terlebih lagi dengan adanya fitur sortir yang memperbolehkan para pengguna untuk menyortir, menggolongkan dan memilih berbagai musik dari berbagai zaman dan berbagai ujung negara. Jadi, mengapa masih ada orang yang berinisiatif untuk menjalani pekerjaan berat tersebut. Namun saya tercerahkan ketika mendengar beberapa poin penting mengenai pengarsipan musik yang disinggung dalam episode ini.


Indonesia merupakan negara yang kaya akan seni dan budaya. Tidak perlu dipertanyakan lagi akan output musik Indonesia yang layak digolongkan produktif dengan menimbang beragam musik tradisional dan instrumen tradisional asli Indonesia. Merenung keterlambatan akan mendaratnya teknologi modern dan mungkin kurangnya upaya proses pengarsipan, dapat sama-sama kita maklumi bahwa database musik Indonesia tidak sehebat output musiknya. Resah akibat hal tersebut, Irama Nusantara bertekad untuk memanfaatkan ilmu dan sumber daya yang ada untuk meningkatkan database musik dan mengabadikan kumpulan-kumpulan rilisan fisik secara digital yang kerap mereka telusuri sehingga dapat menjadi sentra musik-musik populer dari berbagai zaman yang dapat dicerna oleh masyarakat bebas biaya.


Berbagai cara untuk memperoleh karya yang menjadi bahan untuk diarsipkan ini beragam. Umumnya dari koleksi pribadi akan tetapi meluas hingga ke donasi piringan hitam oleh kolektor dermawan hingga meminjam ke toko atas persetujuan sang pemilik. Individu-individu ini menyadari akan usaha dan cita dari pengelola Irama Nusantara sehingga pengumpulan bahan dilakukan atas consent setiap pihak. Irama Nusantara juga telah mencoba untuk mendapatkan dukungan dari RRI (Radio Republik Indonesia) yang kerap diabaikan. Setelah menghampiri BEKRAF, Irama Nusantara akhirnya mendapatkan akses ke berbagai stasiun RRI besar di pulau Jawa.


Source: iramanusantara.org

Namun, ambisi dari Irama Nusantara tidak sebatas mengumpulkan musik-musik lawas ke database internet saja. Gerry sempat membentang beberapa proyek yang melibatkan Irama Nusantara yang tentu memperluas wawasan kami terhadap peranan yayasan tersebut. Sempat bekerja seiring dengan lembaga pemerintahan yang telah larut dilebur, BEKRAF, Irama Nusantara dipercayai untuk mengurus aspek riset dan pengarsipan musik nasional. Dalam perkembangan musik nasional terutama globalisasi musik tradisional, data-data yang diperoleh Irama Nusantara merupakan data yang krusial untuk meningkatkan kualitas industri kreatif. Salah satu proyek hasil dari kerjasama kedua entitas ini merupakan proyek Hello Dangdut, proyek yang bertujuan untuk mempromosikan dan globalisasi musik asal Indonesia. Bahkan usaha Irama Nusantara dan BEKRAF sempat meluas sampai ke Jepang demi kepentingan riset atas impian untuk merevitalisasi musik Dangdut yang sempat besar di negeri sakura tersebut. Gerry juga sempat menyinggung akan terbatasnya pengetahuan BEKRAF sebagai lembaga pemerintahan mengenai musik dangdut dan musik Indonesia secara garis besar sehingga dibutuhkan pengetahuan oleh entitas yang memiliki spesialisasi di bidang tersebut layaknya Irama Nusantara. Mungkin ini bisa menjadi contoh akan pentingnya pendekatan antara pemerintah dan lembaga berspesialisasi dalam mengerjakan sebuah proyek bersama-sama yang buah hasilnya untuk kebaikan masyarakat.


Sebagai entitas independen yang hasil kerjanya dapat dinikmati bebas biaya, Gerry merenungkan akan tantangan yang ada dalam menjalani pekerjaan Irama Nusantara. Pasti merupakan hal yang sangat sulit bagi entitas independen untuk mencari model bisnis yang pas dalam menjalani sebuah pekerjaan yang berbau nasionalistik lebih lagi berdasarkan inisiatif. Tentu lirikan pertama Irama Nusantara adalah mencari potensi kerjasama dengan pemerintah, dimana seperti yang sudah dibahas mereka sempat bekerja sama dengan BEKRAF dalam melakukan riset, menjadi agency dan menjalankan projek seperti Hello Dangdut. Upah yang diperoleh lalu diputar untuk memperluas arsip musik mereka. Akan tetapi, mengingat bubarnya BEKRAF ditambah lagi masa pandemi yang diluar antisipasi, kami turut prihatin akan kesehatan entitas-entitas seperti Irama Nusantara. Menimbang muramnya situasi pandemi ini tentu opsi pencarian dana semakin sempit. Maka dari itu, Irama Nusantara menginisiasi sebuah kampanye yang memaparkan rencana kerja hingga upaya darurat. Upaya darurat meliputi berbagai sarana bagi konsumen yang tertarik untuk berkontribusi. Sarana tersebut merupakan donasi berhadiah (Plat Kaget!), crowdfunding hingga penyewaan kantor. Kampanye ini dirancang dengan harapan untuk mempermudah kelanjutan Irama Nusantara dalam upaya melestarikan budaya Indonesia melalui pengarsipan musik.


Memang masyhurnya musik lawas populer telah meningkat terutama di kalangan anak-anak muda yang fasih menggunakan Internet. Selain dari internet, banyak kolektif lokal maupun internasional yang merayakan musik Indonesia dengan caranya masing-masing dari pesta-malam hingga reissue album yang tentunya upaya ini tidak kalah penting dari pengarsipan. Namun inisiatif Irama Nusantara dalam membangun sebuah suaka digital bagi musik lawas Indonesia yang keberadaannya tersebar di dalam dedebuan rak memang sebuah inisiatif yang tidak secara langsung dapat dikomersialisasi, akan tetapi nilai-nilai positif yang dimilikinya sangatlah menakjubkan. Hingga detik ini, Irama Nusantara telah berhasil mengabadikan ribuan musik Indonesia dari tahun 1920-1980an yang dapat anda dengarkan di website mereka. Maka dari itu, selaku masyarakat yang dapat menikmati hasilnya, alangkah baiknya bagi kita untuk mengapresiasi pekerjaan tangan mereka ini.






Join Our Cult
  • White SoundCloud Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White Instagram Icon
  • White YouTube Icon

© 2020 by noisewhore 

Curating Whatever's Left