Pentingnya untuk Menjadi Inklusif dalam Industri Musik

Artikel ini merupakan artikel komplementer dari edisi terakhir podcast kami, NWFM: Ourselves.

Ditulis oleh: Argia Adhidhanendra

Editor: Danang Joewono & Aliyya Asra

Cover Foto oleh: Renaldy Fernando

Episode NWFM kali ini bisa dibilang spesial karena tidak ada narasumber khusus yang kami undang, setelah 8 episode berbincang dengan orang-orang yang terlibat dalam industri musik atau industri kreatif, kami memutuskan untuk mendedikasikan satu episode untuk kami sendiri dan orang-orang yang selama beberapa minggu terakhir senantiasa hadir dan berpartisipasi dalam setiap diskusi NWFM, para anggota server Discord kami. Hasilnya, kami bergurau dan berdiskusi lebih dari 3 jam, mulai dari mengulas karya mereka hingga membahas masalah-masalah serius seputar industri musik dengan individu-individu yang tidak saya kenal sebelumnya. Hal ini membuat saya sadar akan satu hal: Pentingnya untuk membuka mata kita dan mengajak setiap elemen dalam diskursus di industri musik.


NWFM Discord Forum - NWFM: Ourselves


Hal ini bertepatan dengan maraknya webinar atau diskusi daring perihal industri musik. Mungkin saya sendiri lupa akan satu hal, yang terpenting dari diskursus semacam itu adalah regenerasi atau dialog dengan generasi selanjutnya dan mengajak sebanyak mungkin orang untuk terlibat dalam industri ini. Atau dalam kata lain, dialog dua arah yang berimbang.


Berdirinya Discord Kami dan Interaksi yang Terjadi

Saat kami membuat server Discord, sebuah layanan yang menyerupai groupchat namun dilengkapi dengan voice channel dan text channel, saya pribadi tidak menyangka bahwa kami akan bertemu dengan individu-individu lain yang kami tidak kenal sama sekali. Tujuan awal dari Discord kami merupakan sebagai media untuk mengakali kendala logistik yang kami hadapi dalam membuat podcast secara virtual. Namun kami tetap mengundang siapapun yang tertarik untuk bergabung dan berdiskusi dalam server tersebut.


Hasilnya, hari ini anggota Discord kami menyentuh angka 169, memang bukan angka yang wah, namun bagi saya pribadi, 169 individu yang tiap minggu-nya bisa berdiskusi seputar musik merupakan pencapaian yang positif. Dari aspek diskursus, saya jujur lebih menyukai pencapaian kami dengan Discord, ketimbang ketika saya menulis artikel yang ramai dibicarakan di media sosial misalnya. Alasannya adalah tersedianya komunikasi dua arah.


Bayangkan saja, konfrontasi yang konstruktif bisa terjadi dengan begitu mudah, ketimbang sub tweet dari orang-orang ketika artikel saya keluar misalnya. Saya sendiri baru mendapatkan konfrontasi dari warga Discord yang menyatakan bahwa saya merupakan abang-abangan (Baca: Snob senior, mungkin) dan warga Discord tersebut kadang segan berbicara dengan saya sebelum adanya grup Discord ini.


Balasan dari Discord NWFM Discussion Forum


Hal menarik lainnya adalah warga yang terkumpul di Discord kami umumnya tidak mengenal satu sama lain dan anonim sifatnya, mereka menggunakan username mereka masing-masing. Namun uniknya, hal ini tidak menghambat diskursus yang konstruktif, mereka mempromosikan karya mereka, menyatakan pendapat mereka secara luwes dan memberikan kritik untuk satu sama lain. Mungkin bagi pembaca yang masih belum terbayang tentang apa yang saya bicarakan, bayangkan twitter untuk musik tanpa sub tweet dari akun anon atau snob industri.


Pentingnya untuk Menjadi Inklusif dalam Diskursus di Industri Musik

Setelah beberapa minggu berjalan, kami memutuskan untuk melakukan podcast kami secara interaktif, satu edisi yang kami dedikasikan untuk warga Discord NWFM. Begitu kami membuka podcast edisi interaktif ini, banyak sekali interaksi yang terjadi, saya pribadi menjadi lebih familiar dengan audiens kami di Discord.


Satu hal yang paling saya hargai dari diskusi sepanjang 3 jam ini adalah kesempatan saya untuk mendengar pendapat orang-orang yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Sebagai contoh, satu jam terakhir diskusi kami berfokus pada beberapa warga Discord yang berada di bangku SMA atau tahun pertama kuliah. Mereka merasa segan sebelumnya untuk mengikuti diskursus atau bahkan terlibat dalam kapasitas apapun di industri musik. Alasan utamanya adalah takut akan gatekeeping yang dilakukan oleh “tokoh-tokoh” yang lebih senior dalam industri. Bahkan salah satu dari mereka sudah merasakan tindakan gatekeeping ini.

Balasan dari Discord NWFM Discussion Forum


Mungkin saya sudah lupa saat itu, namun enam tahun lalu saya tahu betul rasanya menjadi anak 18 tahun yang ingin terlibat dalam industri musik, dan saya tahu betul apa rasanya segan untuk mengajak diskusi atau datang ke acara-acara tertentu. Namun sejak saya masuk ke dalam industri ini berkat beberapa orang yang saya temui saat saya masih 18 tahun itu, saya mungkin sudah melupakan persoalan seperti ini dan baru kali ini saya mendengar kembali perihal gatekeeping dan kadang sulitnya masuk ke industri ini karena satu dan lain hal.


Perbincangan gatekeeping merupakan satu dari sekian banyak topik yang kami bahas dan mungkin topik gatekeeping sendiri perlu dibahas lebih dalam nantinya. Poin utama dari ilustrasi ini adalah bagaimana kami menemukan suara atau diskursus yang sudah jarang sekali saya pribadi jumpai dan dari demografi yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya.


Terlepas dari topik gatekeeping, interaksi kami dengan warga Discord di hari itu menunjukan hal lain: Minat dari generasi muda yang akan melanjutkan industri ini untuk diskursus dua arah yang sehat bisa dibilang tinggi, rasa penasaran mereka dan keinginan mereka yang juga tinggi untuk berkomunikasi dengan berbagai elemen dalam industri. Kita sebagai industri secara kolektif harus mengingat bahwa regenerasi itu penting, saya bisa menulis artikel ini karena ada proses regenerasi dari orang-orang yang mengajari saya sejak 6 tahun lalu tentang praktek industri ini.

Balasan dari Discord NWFM Discussion Forum


Jika iklim diskursus ini dipertahankan, entah kekhawatiran apa yang bisa kami jumpai setelah ini. Mungkin kita sebagai industri, sudah terlalu terbiasa dengan pendapat-pendapat lantang di linimasa atau bahkan di media dan mereduksi diskursus kita ke serangkaian thread twitter atau sub tweet yang tidak penting-penting amat.


Untuk menutup artikel ini, saya mengajak para pembaca, baik yang sudah terjun ke industri ini atau yang belum terlibat namun tertarik terlibat dalam kapasitas apapun, untuk terlibat dalam diskursus dua arah yang konstruktif. Individu-individu yang sudah terlibat selama beberapa tahun terakhir memiliki kewajiban untuk membuka pintu diskusi terbuka dan konstruktif dengan generasi yang lebih muda, baik itu melalui sosial media atau interaksi langsung. Sebaliknya, generasi selanjutnya yang akan meneruskan industri ini harus memberanikan diri untuk membuka diskursus antar generasi.


Cara kami dengan Discord NWFM merupakan salah satu dari sekian cara yang bisa dicoba. Poinnya adalah: Diskursus dua arah ini harus ditanam sebelum terlambat.


Join Our Cult
  • White SoundCloud Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White Instagram Icon
  • White YouTube Icon

© 2020 by noisewhore 

Curating Whatever's Left