Perbedaan Perilaku dan Proses Kreatif antar Generasi di Industri Musik

Updated: May 20

Artikel ini merupakan artikel komplementer dari edisi terakhir podcast kami, NWFM: Kareem Soenharjo.

Ditulis oleh: Argia Adhidhanendra

Foto oleh: Nugie


Mungkin ada sebagian orang yang tidak tahu mengenai hal ini, namun musisi/produser handal Kareem Soenharjo adalah salah satu dari dua pendiri noisewhore, beliau mendirikan noisewhore bersama saya saat kami masih di bangku SMA kelas 2, kami saat itu membuat zine fotokopian berisi ulasan, rekomendasi dan foto-foto dari kami berdua di tahun 2014. Kami berdua saat itu mungkin terlalu naif itu mengasumsikan bahwa ketertarikan kami berdua dalam hal-hal yang sama sekali tidak diperhatikan anak SMA lainnya layak dijadikan zine dan disebarkan ke teman-teman di sekolah. Sebagai konteks, kami berdua tidak begitu populer saat SMA, dan sejujurnya saat itu EDM sedang menjamur di khalayak SMA, siapa juga yang ingin membaca rekomendasi band-band crust punk dari Kareem dan review album Yuck terbaru oleh saya.


Cover zine pertama kami, dari arsip pribadi saya, 2014


Hasilnya, saya menemukan zine kami di tong sampah dan berceceran di beberapa tempat dekat aula sekolah kami. Saya sejujurnya tidak tahu apa perasaan Kareem saat melihat hal tersebut, namun saya pribadi sakit hati bukan main, saya pikir kami akan mendapat audiens (Tentu saja tidak) dan dapat berbagi ketertarikan kami terhadap teman-teman di sekolah. Kami tidak merilis edisi kedua dari zine tersebut dan saya secara sepihak, dan hingg hari ini masih ditagih oleh Kareem, menyimpan master dari zine tersebut dalam bentuk kertas HVS yang dilipat dan berisi collage artikel-artikel kami (Saat itu kami memperbanyak master tersebut dengan cara fotokopi)


Setelah itu, tidak ada edisi kedua dari zine kami, Kareem menjadi salah satu anggota kolektif Cul De Sac dan menjadi produser serta musisi full-time. Sementara saya tetap melanjutkan noisewhore sampai hari ini.


Enam tahun lebih setelah zine pertama itu rilis, Kareem sudah merilis satu album dan beberapa rilisan kolaborasi dan saat kami berbincang dalam podcast NWFM, beliau baru saja merilis dua single serta sedang mempersiapkan album terbarunya yang akan rilis tahun ini. Perbincangan dengan Kareem tidak terasa seperti podcast, namun seperti virtual hang out bersama teman-teman. Hari itu, kami bersama 40+ anggota discord channel kami berbincang selama 4 jam lebih bersama Kareem, mulai dari bagaimana cara saya dan Kareem saat itu masuk industri, perbedaan antar generasi hingga pemutaran lagu BAP. yang belum dirilis.


Cul De Sac, noisewhore dan Swin666er Collective

Dalam perbincangan kami bersama Kareem, salah satu hal pertama yang dibahas adalah membandingkan behavior dalam industri musik hari ini dengan 3-4 tahun yang lalu saat kami pertama memasuki industri ini.


Kareem merupakan satu individu yang terjun ke dalam industri secara bersamaan dengan saya, walau dalam segmen yang berbeda, beliau dengan Cul De Sac masuk ke dalam segmen club dan saya memulai upaya show organizing. Kawan-kawan lain yang mungkin saya ingat adalah Swin666er Collective (RIP) yang mulai mengadakan gig di rumah Akbar Rumandung.


Satu hal yang kami perhatikan adalah bagaimana kolektif-kolektif ini membutuhkan waktu yang lama, learning curve yang panjang dan pendekatan terhadap output yang dikeluarkan. Sebagai contoh, Cul De Sac dan noisewhore saat dilahirkan tidak memiliki koneksi ke industri, saat kami memulai zine tersebut di bangku SMA, kami tidak kenal satu orang-pun dalam industri musik, namun kami tetap membuat acara-acara dalam segmen kami masing-masing, dalam kasus noisewhore, saya akhirnya bertemu dengan orang-orang seperti Daffa dari Kolibri Rekords dan Zaka dari Leeds Records (RIP) serta membangun komunitas tersendiri, noisewhore sendiri menghabiskan dua tahun membuat acara-acara kecil di Jakarta, dengan band-band lokal yang kami sukai. Pada akhir 2017, baru kami bersama dengan kawan-kawan industri yang kami bangun relasinya, membuat konser mancanegara pertama kami untuk Fazerdaze. Hal yang sama juga berlaku untuk Cul De Sac yang memulai panggung-panggungnya di venue-venue kecil hingga akhirnya pada 2017 acara-acara mereka terisi penuh.


Perbedaan Siklus

Siklus yang dijalankan saya dan Kareem selama beberapa tahun terakhir nampaknya tidak berlaku untuk generasi-generasi berikutnya, generasi ini tampaknya lebih memiliki learning curve yang jauh lebih cepat. Dalam konteks show organizing, banyak sekali kolektif-kolektif baru yang dapat melakukan apa yang saya lakukan setelah satu tahun mempelajari show organizing. Hal yang serupa juga terjadi dalam kasus Kareem, salah satu punggawa group rap ENVY* dapat memproduseri suatu track dengan kemampuan yang sangat mumpuni setelah 7 bulan mempelajari hal tersebut.


Tentu ini adalah contoh-contoh positif yang kami ambil, banyak juga entitas muda yang menginginkan semuanya dengan cara yang lebih "instan" dan hasilnya buruk, baik dalam konteks show organizing dan producing. Namun setiap generasi saya rasa memiliki fair share dari output-output buruk seperti ini.



Kareem (BAP.) di Ornaments Festival, oleh Nugie, 2019


Terlepas dari hal itu, kami mengaitkan hal ini dengan teknologi dan perbedaan orientasi antar dua generasi. Saat saya atau Kareem membuat acara-acara kecil, engagement instagram bukan sesuatu yang umum dan berharga seperti hari ini, sehingga tolak ukur kesuksesan kami menjadi begitu subjektif. Hari ini, dengan bantuan teknologi, entitas atau individu dapat mengukur siapa saja yang menikmati konten yang mereka keluarkan dengan segala metric yang mutakhir. Kondisi seperti ini dapat mempercepat learning curve dan persebaran konten bagi entitas atau individu dalam mengevaluasi konten mereka. Saya pribadi meragukan apakah mengukur performa via media sosial merupakan hal yang baik. Namun tidak dapat disangkal lagi, persebaran konten terjadi begitu instan dan cepat sehingga siap atau tidak, entitas dalam industri musik harus bisa menyuguhkan hal terbaik yang dapat mereka tawarkan.


Berbeda dengan beberapa tahun silam, saat noisewhore atau Cul De Sac baru berdiri di tahun pertama, 10-20 orang yang tahu akan keberadaan kami dan mengikuti kami akan memberi toleransi untuk kesalahan teknis atau konten-konten di bawah standar. Sembari tentunya kami berjejaring dan berbincang dengan senio-senior dalam lingkungan kami. Lambat laun, saat masing-masing dari kami mulai mendapat perhatian yang lebih besar, kami sudah matang dalam memberikan output, karena sudah ada learning curve yang cukup lama bersama 10-20 orang tadi yang memberikan kesempatan kami untuk belajar.


Sebaliknya, hari ini, jika anda membuat suatu kolektif yang membuat acara misalnya, anda bisa dengan mudah memanggil suatu band mancanegara karena aksesnya begitu mudah, jika band yang anda undang tersebut merupakan band favorit orang-orang, anda akan mendapatkan perhatian yang besarnya bukan main, anda mungkin belum kenal banyak orang dalam industri atau belum banyak berdiskusi dengan individu-individu lain yang sudah menjalankan acara, namun karena anda mengundang suatu band yang sedang digandrungi warga hari ini, maka acara anda akan mendapat audiens yang sangat besar.


Dalam menyajikan acara tersebut, tentu ada harus memberikan standar output yang tinggi, layaknya konser-konser yang mengundang musisi mancanegara lainnya. Inilah yang membawa kita pada beberapa entitas yang dapat melakukan apa yang saya lakukan dengan noisewhore dalam waktu yang sangat singkat. Apa yang saya lakukan di tahun kedua bersama noisewhore dilakukan oleh kolektif-kolektif lain dalam waktu 6-9 bulan berdiri-nya kolektif tersebut.


Di sisi lain, inilah yang membawa kita pada kolektif-kolektif yang membawa acara-acara buruk dan memberikan pengalaman mengerikan untuk audiens dan anggota kolektif terkait. Tentu, saya tidak perlu menyebut nama disini.


Hal yang sama juga berlaku untuk musisi, persebaran konten yang begitu cepat membuat audiens dapat membentuk opini dengan begitu cepat. Bagaimana tidak, begitu suatu album rilis, dalam hitungan jam atau hari pasti sudah ada diskusi hangat di linimasa. Opini yang dibentuk dapat menguntungkan atau merugikan musisi terkait, tergantung dari kualitas output dan nuance-nya tentunya. Sehingga, mungkin saja musisi baru dapat melesat begitu cepat di mata publik dengan strategi yang tepat. Tentunya, hal sebaliknya bisa terjadi dan menghambat atau bahkan menghalangi progresi musisi tersebut akibat dari opini publik yang terbentuk terlalu cepat.


Jujur saja, membicarakan hal ini dan menulis tentang hal ini membuat kami merasa sangat tua, padahal saya baru berumur 22 dan Kareem 23, bayangkan apa rasanya berada di industri saat ini dan berada di umur 30-40 tahun (Yes, I'm looking at you abang-abangan skena)

Join Our Cult
  • White SoundCloud Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White Instagram Icon
  • White YouTube Icon

© 2020 by noisewhore 

Curating Whatever's Left