Saat Ini, Jurnalis Musik Harus Berani Bersikap

Updated: May 19

Oleh Raka Ibrahim


****

Dari sekian banyak klise tentang jurnalis musik lokal, satu paling sering bikin saya sakit gigi: bahwa kami semua pemuja film Almost Famous.


Film besutan sutradara Cameron Crowe itu memang punya premis yang menarik. Seorang remaja tanggung pencinta musik berkawan dengan kritikus musik kondang Lester Bangs, lantas berangkat mewawancarai para rockstar untuk majalah top Rolling Stone.


Salah satu adegan film tersebut melekat di ingatan saya. Lester Bangs tengah menceramahi karakter utama tentang fitrah seorang kritikus musik. Jangan pernah berkawan dengan para musisi, ucapnya. Seorang jurnalis musik mesti “bermusuhan” dengan musisi, supaya ia siap membantai karya apa saja tanpa dibikin sungkan oleh relasi pertemanan atau kepentingan lainnya.


Bahkan bertahun-tahun kemudian, selorohan Bangs ini begitu mengganggu saya. Bukan saja karena filosofinya yang ekstrem, tapi karena saya tahu betul bahwa Bangs yang sesungguhnya juga pernah bilang begitu. Posisi bermusuhannya dengan musisi menjadikannya sosok proto-edgelord yang hakiki. Ulasan dan feature-nya selalu beringas dan penuh racauan. Simak saja wawancara bajingannya dengan Lou Reed yang penuh aroma permusuhan dan ceng-cengan jahat.


Namun, kita tersungkur pada pertanyaan paling penting: apakah bacotan Bangs bisa diadu di scene lokal?


****


Dalam konteks waktu dan negaranya, diktat Bangs masuk akal. Industri musik global memang belum sematang industri film. Namun di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, paling tidak industri musik telah berkembang menjadi bisnis bergelimang uang yang menyangkut harkat hidup banyak orang. Relasi antara musisi, label besar, dan penikmat musik pun berkembang sebagai relasi antara produsen dan konsumen. Musik, sebagai karya, menjadi komoditas yang layak diperjualbelikan.


Pada saat bersamaan, proses discovery musik masih dilakukan secara aktif. Anda harus secara sengaja menyambangi record shop terdekat, mengubek-ubek rak yang berdebu, dan membeli album yang sesuai selera. Beruntunglah jika Anda mendapati penjaga toko yang ahli soal musik seperti di film High Fidelity, sebab Anda akan mendapatkan soko guru yang bisa membantu Anda menentukan album mana yang layak dibeli atau tidak. Jika tidak ada, pasti ada momen di mana Anda mengambil risiko membeli “kucing dalam karung”, atau dikadali oleh album yang konten musiknya tidak sesuai sampul dan judul.


Barrier inilah yang sempat menjadikan para jurnalis musik begitu relevan. Ketika ada begitu banyak karya musik yang dirilis, proses penemuannya masih manual, dan arus informasi masih belum begitu tercecer, para jurnalis dan kritikus musik memosisikan diri sebagai figur otoritatif yang mengarahkan pendengar musik pada rilisan yang sesuai. Dalam istilah Jeremy Larson di Pitchfork, para kritikus musik menjelma menjadi para “consumer guide”.

Namun, seiring dengan perkembangan industri musik secara global, pola konsumsi musik bergeser. Konsumsi aktif yang membutuhkan usaha sungguh-sungguh dan memiliki barrier fisik maupun ekonomi digantikan oleh pola konsumsi dan discovery musik yang pasif.


Dewasa ini, algoritma di situs streaming macam Spotify dan JOOX akan mengarahkan Anda secara otomatis pada musik baru. Proses menikmati musik tersebut pun tak lagi memakan biaya besar–bandingkan jumlah uang yang Anda keluarkan untuk membayar langganan Spotify tiap bulan dengan harga sekeping CD. Semisal Anda tahan dengan interupsi iklan menjengkelkan, Anda bahkan bisa mengakses jutaan katalog musik dunia secara gratis.

Perubahan pola konsumsi dan discovery ini pun mengguncang posisi kritikus sebagai consumer guide. Mengutip Cherie Hu di Columbia Journalism Review, saat ini “algoritma streaming lebih besar pengaruhnya terhadap kebiasaan mendengar konsumen.” Namun, peranan algoritma dalam “memandu” konsumen tak hanya lebih praktis ketimbang para kritikus. Praksisnya pun berbeda secara fundamental.


“Algoritma tidak berfungsi sebagai pembentuk selera, tetapi sebagai pencermin selera,” lanjut Hu. “Melalui algoritma, pendengar disajikan musik baru yang paling mirip dengan musik yang sudah kamu sukai, sehingga tingkat kesuksesannya lebih tinggi.”


Di luar negeri, perang dingin antara algoritma dan kritikus ini telah mencapai puncaknya. Ulasan Columbia Journalism Review tersebut menangkap adanya ketegangan antara perusahaan streaming raksasa dan algoritma andalannya dengan para kritikus yang merasa relevansi pekerjaannya berkurang. “Para penulis musik agaknya merasa, “Saya enggak mau pekerjaan yang susah payah saya perjuangkan ini diambil alih oleh robot,”” pungkas Jeremy Larson, editor Pitchfork, seperti dilansir dalam naskah Hu.


Menariknya, kedua kubu ini sebenarnya masih mencari-cari metode kerja yang tepat. Sampai sekarang, para raksasa streaming masih merugi dan bergantung pada suntikan dana terus menerus dari investor yang tergiur pada pertumbuhan jumlah user-nya. Seperti dilansir Rolling Stone pada Juli 2018, Spotify merugi sebanyak 394 juta euro sepanjang dua kuartal di 2018, dua kali lipat kerugian di dua kuartal 2017.


Sejak awal diluncurkan, Spotify memang konsisten merugi. Pertaruhan mereka adalah bahwa suatu saat nanti, uang langganan dari jumlah pengguna layanan mereka (yang diprediksi akan mencapai 193 juta pengguna di akhir 2018) akan berhasil menutupi pengeluaran dari uang royalti yang harus mereka bayarkan ke artis. “Namun menilik angka-angka terkini,” tulis Rolling Stone. “Titik balik itu tak akan segera datang.”


Di sisi lain, bisnis jurnalisme musik pun seolah melesu. Majalah-majalah yang menjadi kanon seperti NME dan Rolling Stone entah bubar, pindah sepenuhnya ke platform daring, atau terombang-ambing nasibnya. Upaya mereka merebut kembali relevansi dari para algoritma pun mendorong pertanyaan eksistensialis tentang naskah macam apa yang diperlukan saat ini. Kritikus jazz Ted Gioia, misalnya, sempat mengeluh di The Daily Beast bahwa “jurnalisme musik saat ini tak ubahnya reportase gaya hidup” yang minim pemahaman teknis dan teori musik. Bagi kritikus tradisional macam Gioia, di era serbacepat seperti saat ini, kritikus mesti memosisikan diri sebagai pendidik yang mengenalkan pemahaman teknis musik bagi audiensnya. Naskah Gioia tersebut sempat jadi drama tersendiri di kalangan jurnalis musik global, termasuk menuai sanggahan penuh emosi di Pitchfork.


Ajakan Gioia toh tidak disambut oleh kawan-kawannya. Seperti dikutip Cherie Hu di Columbia Journalism Review, contributing editor The Baffler, Liz Pelly, berujar bahwa media-media musik dewasa ini mulai “kian konten berupa ulasan, wawancara, editorial, dan tulisan secara keseluruhan, dan lebih banyak memberikan ruang bagi “sessions”, “experiences”, dan playlist.”


Krisis eksistensialis bagi jurnalisme musik saat ini bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab secara sederhana, termasuk oleh naskah ini. Namun, debat kusir Gioia vs Pitchfork menunjukkan bahwa industri media musik global pun masih bingung mencari solusi. Media-media musik tersebut tak lagi tahu bagaimana caranya memposisikan diri di era modern, dan tak lagi mampu membaca zeitgeist yang terjadi di masyarakat maupun ranah kesenian.

Mentalitas “jurnalis-sebagai-consumer-guide” sebetulnya berkelindan dengan banyak asumsi lama terkait jurnalisme secara keseluruhan. Dengan memosisikan diri sebagai “consumer guide”, jurnalis musik secara sadar menjaga jarak dengan scene ataupun ekosistem musik.


Mereka harus berjarak dengan ekosistem musik sebab mereka harus berpihak kepada para fans, atau lebih tepatnya para konsumen. Hanya dengan cara inilah mereka dapat menjaga objektivitas, atau paling tidak ilusi akan objektivitas. Sekilas saya teringat sebuah wawancara video Anthony Fantano dengan fans-fansnya di mana ia bersikukuh bahwa ia “ada di sisi kalian, para fans musik, bukan para musisi.”


Terlepas dari posisi Fantano yang unik dan lebih berkelindan dengan budaya YouTube dan internet personality ketimbang jurnalisme, jarak ini sudah waktunya dibabat. Dikutip dalam The Guardian, editor Mojo, John Mulvey, berpendapat bahwa kematian versi cetak NME menunjukkan bahwa media-media musik sudah tidak bisa lagi memposisikan diri sebagai “consumer guide” untuk audiens yang luas. “NME adalah upaya terakhir sebuah media untuk bicara pada masyarakat umum,” tuturnya. “Saat ini, majalah-majalah musik yang bertahan sadar bahwa mereka bukan publikasi mainstream, melainkan publikasi spesialis.”

Menyeruaknya media-media spesialis seperti Gold Flake Paint, Cvlt Nation, hingga Fecking Bahamas menunjukkan terjadinya tren baru. Ketika media-media musik besar yang berusaha menjadi menara gading runtuh, yang muncul justru media-media yang kecil, berbasis komunitas, tapi memiliki basis pembaca yang loyal.


“Media-media musik saat ini beradaptasi pada jumlah tiras yang menurun serta pasar yang kompetitif dengan mengurangi overhead, menggunakan tim yang lebih kecil, dan mempertegas spesialisasinya.” Tulis Dave Simpson di The Guardian. “Mereka fokus pada karya jurnalistik yang berkualitas dan panjang untuk menyeimbangkan derasnya arus konten gratis yang mudah dibuang.”


Implikasi dari pergeseran ini tentu menarik ditelisik. Media musik tak lagi bisa menjadi acuan orang banyak yang menjaga jarak dari ekosistem musik, apalagi “memusuhi para musisi” seperti Lester Bangs. Justru, media musik yang berkembang saat ini adalah media musik yang dekat dengan scene di tataran akar rumput, mengetahui ketertarikan pembacanya, dan memahami ceruk pasarnya.


****


Pergeseran ini mungkin jadi milestone penting dalam perkembangan industri media musik global. Namun dalam konteks lokal, kedekatan semacam ini memang sudah mutlak. Jurnalis musik tidak bisa berjarak dengan scene musik. Sejak era Aktuil hingga kini, para punggawa media musik juga memiliki peran ganda sebagai manajer band, pengorganisir konser, produser musik, bahkan sebagai musisi juga. Ambil contoh Arian Arifin yang dulu sempat menjabat editor di majalah TRAX, Wendi Putranto yang menahkodai Rolling Stone sembari memanajeri The Upstairs dan Seringai, hingga Anto Arief yang bermusik di 70sOC tapi juga mengepalai media daring Pop Hari Ini.


Lanskap yang berbeda ini juga mempertegas satu persoalan khas dari media musik lokal: banyaknya konflik kepentingan. Mungkin, justru media musik kita memiliki persoalan yang terbalik dengan media musik global. Sementara media musik di luar negeri kelamaan bermusuhan dengan scene dan menjaga jarak secara ekstrem, kita justru terlalu sibuk “berkawan” dengan ekosistem musik. Bayangkan skenario semacam ini. Apakah akan ada seorang jurnalis yang menulis ekspose mendalam tentang praktik tak baik sponsor rokok di scene bawah tanah, apabila temannya di meja sebelah memanajeri band yang pemasukannya bergantung pada panggung bersponsor rokok?


Saya menulis ini dengan kesadaran penuh bahwa sebagai jurnalis musik dan editor di sebuah publikasi, saya turut menyumbang dosa. Tema yang diangkat dalam media-media musik lokal jarang melangkah lebih jauh dari wawancara yang dangkal, ulasan yang tidak tajam, atau esai yang ngalor-ngidul. Inilah hasil dari kultur yang dibentuk oleh lanskap unik ekosistem musik kita. Jurnalisme musik lokal pun menjadi tumpul, tidak bernas, dan takut mengusik kantung-kantung kekuasaan. Apalagi memberikan tawaran baru.


Semestinya, media musik tak hanya melansir ulasan dangkal yang mentok di kisaran 600 kata atau esai yang mengangkat perkara-perkara tidak relevan. Media musik perlu menjadi ruang yang tak hanya mengangkat karya-karya teranyar, melainkan juga menyebarkan pengetahuan dan perkembangan dari scene lintas kota bahkan secara regional dan global. Pengetahuan tentang perkembangan hukum di tataran lokal hingga nasional, insight dan cara mengorganisir gigs di level akar rumput, hingga praktik rekaman dan produksi yang hemat biaya perlu disebarluaskan.


Namun, hub ini tidak boleh netral melainkan berkesadaran. Prinsipnya sepemahaman dengan konsep advocacy journalism, yakni bentuk jurnalisme yang tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar jurnalistik tapi secara sadar dan terbuka memperjuangkan isu tertentu. Meski tetap berkomitmen teguh pada prinsip seperti faktualitas dan reportase yang mengulas kedua sisi, media yang berkesadaran tahu betul posisi mereka dalam isu tertentu dan mengutarakannya secara blak-blakan bahkan sejak masthead sekalipun.


Dalam konteks musik, saya menanti munculnya media yang tajam dan kritis tapi secara terang-terangan memperjuangkan inklusivitas dan representasi yang lebih beragam di scene musik, misalnya. Media semacam ini akan secara sengaja mengurangi coverage untuk musisi laki-laki-cishet yang toh sudah banyak digembar-gemborkan oleh media lain. Jangan harap juga mereka akan memberikan “panggung yang setara” bagi suara-suara sumbang yang homofobik, seksis, rasis, atau ableist.


Objektivitas peliputan dan sifat netral dianggap semu dan tidak relevan oleh media semacam ini. Mereka justru akan secara blak-blakan memberi ruang bagi musisi trans, penyandang disabilitas, dan lain sebagainya, serta mengangkat esai dan wacana yang mendorong penghapusan diskriminasi dan kultur toxic masculinity. Prinsip yang sama bisa Anda aplikasikan pada media komunitas yang secara terang-terangan pro terhadap gerakan DIY dan inisiatif akar rumput, sehingga mereka dapat “menyerang” kebijakan pemerintah atau praktik buruk sponsor secara lebih tajam.


Di sini, ada keseimbangan antara apa yang terjadi di ranah global dengan konteks yang terjadi di Indonesia. Media musik kita tak hanya perlu semakin terikat dengan scene di tataran akar rumput, memahami zeitgeist yang tengah bangkit, serta menegaskan spesialisasinya dan melayani komunitas secara sengaja. Segala ini harus dilakukan oleh media musik lokal dengan kesadaran politis dan sikap yang tegas.


Ketika era consumer guide telah musnah dan lewat, jurnalis tak lagi bisa berjarak dan takut mengambil posisi. Mereka harus menjadi aktivis-cum-periset yang menghimpun perkembangan artistik, industri, maupun pergerakan di ekosistem musik secara terperinci. Lantas menentukan sikapnya sendiri sebagai individu maupun institusi media, dan mengkomunikasikannya ke publik secara terbuka dan kritis. (*)


Join Our Cult
  • White SoundCloud Icon
  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White Instagram Icon
  • White YouTube Icon

© 2020 by noisewhore 

Curating Whatever's Left